Agar Terhindar dari Stres, Masyarakat Perlu Memilah Media Sosial

Kamis 25 Juni 2020 13:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 25 196 2236130 agar-terhindar-dari-stres-masyarakat-perlu-memilah-media-sosial-WZgCyol8f6.jpg Lagi stres (Foto: Newsgram)

Di tengah pandemi Covid-19 banyak orang yang sedih bahkan depresi karena banyak kegiatannya terhambat. Hal semacam ini harus disikapi dengan cara positif.

Psikiater RSUD Bahtermas Kendari, dr Junuda RAF SpKJ mengatakan, terkait pengelolaan stres tergantung dari nilai-nilai luhur dalam diri kita. "Sehingga menanggapi pandemi Covid-19 ini, stres perlu diarahkan pada hal-hal positif sehingga kita bisa tetap produktif," katanya.

dr Junuda mencontohkan pengalaman pasiennya yang bertambah stres sehingga mengalami gangguan jiwa berat. Sebaliknya, ada tetangganya seorang penjahit, karena stres di tengah Covid-19 ia justru mampu membuat APD dan masker.

stres

"Oleh karena itu pendapatannya justru meningkat. Nah, itu respons yang kita harapkan, yang positif. Hal ini yang perlu kita lakukan," imbuhnya.

Dibenarkan Dinuriza Lauzi MPsi, pada situasi pandemik seperti sekarang, respons yang diberikan masyarakat tergantung pada kepribadiannya. Seperti ada yang memberikan respons emosi, bahkan memicu kegaduhan. Ada pula yang menanggapi persoalan dengan tetap tenang.

Seperti dilansir dari Sindo News, agar terhindar dari stres dan emosi, masyarakat perlu melakukan beberapa hal. Di antaranya memilah media sosial atau informasi yang dapat menghindarkan kita dari stres dan emosi.

"Kontrol emosi juga perlu, di mana kita akan menentukan sikap, apakah kita akan berdamai keadaan, atau melawan keadaan," ucap Dinuriza.

Ia juga menyoroti akibat dari tidak konsistennya antara kebijakan pemerintah dan fakta yang terjadi di lapangan sehingga memicu munculnya tagar Indonesia Terserah. "Kondisi ini membuat pengabdian tenaga kesehatan tidak berarti," kata Dinuriza.

Baca juga: Olahraga di Era New Normal, 4 Artis Cantik Ini Langsung Bergaya di Senayan

 Jika situasi dirasakan di luar kontrol, ia menyarankan mencoba beberapa langkah. Antara lain mengidentifikasi perasaan yang kita alami, kembali pada agama dengan pasrahkan semuanya kepada Tuhan, dan melakukan self terapi atau terapi dengan mengikhlaskan segala sesuatunya. Sebab bagaimanapun, dari kacamata sosiolog, manusia selalu mengalami tingkat risiko seperti bencana alam, polusi, penyakit yang baru ditemukan, kejahatan, teroris, dan lain-lainnya.

(DRM)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini