Heboh Pengakuan Remaja Alami TikTok Syndrome, Apakah Sama dengan Tourette Syndrome

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 26 Juni 2020 20:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 26 196 2237020 heboh-pengakuan-remaja-alami-tiktok-syndrome-apakah-sama-dengan-tourette-syndrome-H3TiYDAKJE.jpg TikTok Syndrome. (Foto: Twitter/@elsyandria)

BEBERAPA hari lalu media sosial dikejutkan dengan beredarnya video pengakuan remaja yang mengaku alami TikTok Syndrome. Remaja itu mengaku bernama Kesar berusia 18 tahun.

Kesar mengalami TikTok Syndrome karena terlalu sering bermain aplikasi video tersebut. Menjadi masalah ketika Kesar mengaku sulit mengendalikan tubuh untuk tidak bergerak dengan sendirinya.

tiktok

Ya, jadi ketika dia diam saja, tubuhnya secara spontan bergerak bahkan sampai dia tidur pun masih bergerak. Kondisi ini mengharuskan dia minum obat penenang sebanyak dua kali per hari.

Untuk sekarang ini dia masih dalam tahap penanganan lebih lanjut. Setelah video ini viral, banyak netizen yang menilai kalau pengakuan Kesar hanya bentuk sarkas yang ditujukan untuk orang-orang yang terlalu sering bermain di TikTok. Jadi, video itu bentuk kritikan terhadap pengguna TikTok yang doyan joget di mana saja mereka berada.

Terlepas dari itu, Okezone coba mewawancarai Psikolog Klinis Meity Arianty untuk menjelaskan apakah TikTok Syndrome itu benar ada atau memang benar itu hanya bercandaan semata.

Diterangkan Mei, sapaan akrabnya, jika dilihat sekilas, gejala yang ditunjukan remaja itu serupa dengan masalah saraf yang dikenal dengan nama Tourette Syndrome. Kondisi ini membuat pasien tak bisa mengontrol tubuhnya, sehingga dia kerap mengeluarkan gerakan tanpa disadari.

"Karena kalau dari videonya, si remaja ini saja pas minum tubuhnya tetap joget-joget. Ini memperlihatkan gejala Tourette Syndrome atau TIC," terangnya pada Okezone, Jumat (26/6/2020).

Lantas, apakah memang penderita TIC memerlukan obat penenang? Mei menjelaskan, mereka butuh kalau memang kondisinya sudah sangat mengganggu. "Tapi, pasien TIC banyak yang enggak minum obat, tapi mereka terapi. Nah, terkait dengan apakah TikTok Syndrome ini masuk dalam ketagori TIC apa enggak, itu harus diuji lebih lanjut oleh dokter saraf," terangnya.

Di sisi lain, Mei coba menuturkan apa itu penyakit TIC. Menurutnya, sampai saat ini penyebab TIC belum diketahui secara pasti. Namun, sejumlah dugaan menyebutkan bahwa TIC muncul karena:

1. Adanya kelainan pada daerah otak.

2. Sistem syaraf otak.

3. Genetik.

4. Gangguan yang dialami ibu saat hamil dan dalam kondisi stress.

5. Faktor psikologis seseorang, misalnya sangat cemas dan depresi.

6. Infeksi kuman.

7. Beberapa kondisi anak ADHD, OCD, dan gangguan tingkah laku.

8. Imitasi (biasanya perilaku yang terjadi pada anak-anak yang mencontoh orang di sekitarnya).

Dia menambahkan, bila kondisi cemas dan ketakutannya berlebihan, itu akan memperburuk TIC yang sudah diidap si pasien. "Hal ini bisa dicek melalui pemeriksaan MRI atau tes darah," tambahnya.

Terkait dengan penanganan, Mei menjelaskan pasien TIC dengan gejala ringan biasanya tidak begitu memerlukan pengobatan. Jadi, pasien bisa disembuhkan dengan terapi atau konseling dan dukungan akan membantu.

Namun jika kondisinya berat, harus psikoterapi. "Terapi CBT akan sangat membantu, obat-obatan dan dukungan sangat diperlukan karena biasanya penderita mengalami masalah saat harus berinteraksi dengan orang lain dan kepercayaan diri mereka rendah dan jika mereka semakin stress dan depresi malah akan memperparah kondisinya," papar Mei.

"Jika memungkinkan, ikutkan pasien TIC dalam kelompok dukungan sesuai kebutuhannya," pungkasnya.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini