Gaya Hidup Tak Sehat Bisa Picu Perlemakan Hati

Jum'at 03 Juli 2020 17:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 03 481 2240773 gaya-hidup-tak-sehat-bisa-picu-perlemakan-hati-eJXzjBU95B.jpg Makanan lezat berlemak (Foto: Mumbling Mommy)

Di tengah pandemi Covid-19, kita tetap harus menjaga kesehatan. Terutama jika usia semakin menua.

Salah satu penyakit yang harus dihindari adalah perlemakan hati. Jika sel lemak di hati sudah lebih dari lima persen, maka individu tersebut dikatakan mengalami perlemakan hati.

Penderita perlemakan hati umumnya berusia 40 tahun. Namun penderita sangat mungkin tidak menyadari dirinya menderita penyakit perlemakan hati sebab tidak bergejala.

 makan makanan berlemak

"Perlemakan hati umumnya tidak bergejala. Pemeriksaan bisa dengan USG hati, yang sama seperti USG memeriksa jenis kelamin bayi pada ibu hamil," kata Dr. dr. Irsan Hasan, SpP-KGEH, FINASIM dalam Webinar Menjaga Kesehatan Hati di Era New Normal.

Seperti dilansir Sindo News, pada hati yang berlemak terlihat berwarna putih pucat daripada ginjal sementara warna yang sehat merah. Ia melanjutkan, penderita biasanya memiliki gaya hidup tidak sehat seperti makan makanan tinggi lemak, kurang makan sayur, makan makanan tinggi kalori, dan diperparah dengan kurang gerak, obesitas, dan faktor genetika.

"Perlemakan hati bagian dari sindrom metabolisme. Tidak jarang orang dengan perlemakan hati bukan mengeluh karena penyakitnya, tapi waktu medical checkup memang ditemukan fatty liver," terang dr. Irsan.

Setelah lemak terdeteksi, nantinya dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan, dan terapi terutama perbaikan gaya hidup karena lemak ini berkaitan dengan gaya hidup seperti pola makan. Agar lemak di hati tak menyebabkan komplikasi seperti peradangan hati, kegagalan hati dan kanker hati, dokter akan menyarankan perbaikan gaya hidup seperti mengatur pola makan, olahraga, menurunkan berat badan dan pemberian obat antioksidan.

Baca juga: Sosok Agnes Jennifer Hebohkan KPK, Tampil Cantik saat Diperiksa

Adapun hepatoprotektor (obat yang memberikan perlindungan pada hati) yang diberikan, dikatakan dr. Irsan bukanlah terapi utama atau bukan peluruh lemak. "Obat ini sifatnya antiradang, antioksidan untuk memperbaiki membran sel hati," kata dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) ini.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini