Waspada Puncak DBD Sepanjang Juli, Dokter Reisa: Yuk Kenali Kenali Gejala DBD

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 03 Juli 2020 20:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 03 481 2240888 waspada-puncak-dbd-sepanjang-juli-dokter-reisa-yuk-kenali-kenali-gejala-dbd-l25qViPtxD.jpg Ilustrasi. (Shutterstock)

DEMAM Berdarah Dengue (DBD) menjadi satu ancaman penyakit yang harus dikendalikan sepanjang Juli. Karena Juli disebut sebagai puncaknya DBD, sehingga Anda harus mengenali gejala DBD.

Hal tersebut ditandai dari semakin meningkatnya kasus DBD dalam beberapa waktu terakhir. Agar tak mengabaikan gejala DBD, Anda harus mengenali dengan seksama.

Untuk menghadapi situasi ini, Juru Bicara Pemerintah Penangan Covid-19, dr Reisa Broto Asmoro mengajak masyarakat Indonesia untuk mengenali gejala DBD. Ada cara mudah untuk mengenali penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti ini.

Baca Juga: Gaya Agnes Jennifer Berbusana Serba Hitam, Selebgram Cantik yang Dipanggil KPK

reisa

"Gejala pertama dan paling umum yang harus diketahui masyarakat adalah demam tinggi hingga 40 derajat celcius, disertai tubuh mengigil dan berkeringat," kata Reisa dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jumat (3/7/2020).

Gejala selanjutnya mencakup sakit kepala, nyeri tulang, otot sakit, mual, hingga muncul bintik-bintik merah di permukaan kulit.

Dokter Reisa mengungkapkan, gejala DBD memang tidak langsung terlihat. Biasanya baru akan muncul 4-10 hari setelah digigit nyamuk yang membawa virus dengue.

Efek yang paling berbahaya dari DBD adalah adanya masalah kulit akibat menurunnya trombosit. Lalu pendarahan juga bisa terjadi, yang bisa menyerang hidung dan gusi.

Kondisi pasien DBD bisa menjadi berat saat mengalami dengue shock syndrome (DSS). Gejalanya meliputi muntah, nyeri perut, perubahan suhu tubuh dari demam menjadi dingin atau hipotermia, dan melambatnya denyut jantung.

"Bila tidak segera ditangani bisa menyebabkan kematian ketika penderitanya mengalami shock karena pendarahan," ucap Dokter Reisa.

Hingga saat ini, belum ada obat spesifik untuk menybuhkan DBD. Pemberian obat hanya untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi. Itulah sebabnya pasien DDB dianjurkan untuk banyak beristirahat dan banyak mengonsumsi air putih agar tidak mengalami dehidrasi.

Sebagai informasi, Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa kasus DBD sampai minggu ke-27 di tahun 2020 ini, sudah mencapai lebih dari 70.000 kasus. Jumlah ini tersebar di 34 provinsi dan 465 kapubaten kota. Sementara untuk angka kematiannya dilaporkan sudah hampir 500 orang meninggal dunia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini