Remaja Kurang Tidur Rentan Mengalami Depresi

Wilda Fajriah, Jurnalis · Senin 06 Juli 2020 20:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 06 481 2241865 remaja-kurang-tidur-rentan-mengalami-depresi-iD94Ocyr6M.jfif Remaja kurang tidur rentan alami depresi (Foto : Timesofindia)

Bermain game, menonton film, atau hangout hingga larut malam merupakan kebiasaan banyak remaja. Hal ini menyebabkan jumlah jam tidur yang berkurang.

Kebiasaan kurang tidur ini harus segera diubah. Jika dibiarkan selama bertahun-tahun, ini bisa jadi faktor yang memicu depresi.

Bahkan, sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry menemukan, ada hubungan mengejutkan antara kebiasaan tidur yang buruk dan menurunnya kesehatan mental.

Sebuah studi dilakukan di antara 4.790 peserta. Semua peserta yang terlibat berusia antara 12-17. Tim yang berbasis di Universitas Reading dan Goldsmiths dan Flinders University meminta para remaja untuk mencatat waktu dan kualitas tidur yang mereka dapatkan selama periode waktu tertentu. Kelompok yang berpartisipasi dibagi menjadi dua kelompok - satu, kelompok yang terkontrol jam tidurnya dan satu lagi memiliki masalah kesehatan mental, termasuk depresi.

Remaja Depresi

Diamati bahwa kelompok yang terkontrol mencatat tidur 8 jam pada hari kerja (dengan sekolah) dan lebih tinggi 8,5 jam pada akhir pekan, mereka yang menderita masalah kesehatan mental melaporkan gangguan tidur. Menariknya, terlihat juga bahwa anak-anak dengan depresi melaporkan kualitas tidur yang buruk serta kuantitas. Dibandingkan dengan ini, anak-anak dengan kecemasan hanya melaporkan perubahan dalam durasi tidur mereka.

Baca Juga : Pesona 5 Ratu Sinetron Era 90-an, Masih Secantik Dulu Lho!

Remaja yang menderita depresi tidak dapat memenuhi rekomendasi tidur hariannya rata-rata 272 menit per minggu. Hal ini menempatkan mereka pada risiko depresi yang lebih tinggi. Mereka juga tidur lebih lambat dari teman sebayanya.

Anak-anak perlu tidur lebih lama daripada orang dewasa. Namun, dengan permulaan masa remaja, ritme sirkadian tubuh (jam biologis) akan diatur ulang. Hal tersebut membuat mereka tetap terjaga selama berjam-jam, tidur larut malam, bangun di pagi hari.

Karena itu, remaja juga perlu tidur yang cukup untuk mengimbangi tonggak perkembangannya. Tidur nyenyak selama 8-10 jam bisa membuat remaja terhindar dari masalah kesehatan.

Meskipun kesehatan mental tidak boleh dianggap enteng pada usia berapa pun, tingkat depresi di antara anak-anak dan remaja meningkat tajam. Studi menunjukkan bahwa hingga 3% anak-anak di Amerika menderita insiden depresi, lebih sering dilaporkan pada anak laki-laki daripada perempuan.

Tidur memang lebih dari sekadar mengisi tenaga. Tidur seperti mengisi bahan bakar untuk otak, membantu mengisi defisit kognitif, memberi tubuh energi yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan, studi, dan olahraga. Menurut CDC, remaja yang tidurnya nyenyak lebih sedikit mengalami masalah perilaku dan perhatian.

Remaja Depresi

Apa yang harus dilakukan?

Kualitas tidur yang baik pada usia berapa pun, terutama remaja, semuanya menjadi semakin penting. Ada hal-hal tertentu yang dapat dilakukan orangtua untuk memastikan bahwa anak remaja mereka mendapatkan tidur yang baik dan mengurangi risiko kesehatan mental yang buruk

- Atur waktu menggunakan gadget, jangan menatap layar ketika sudah memasuki waktu tidur.

- Melibatkan mereka dalam kegiatan yang membuat mereka lelah sepanjang hari.

- Kegiatan fisik dan diet yang tepat memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan anak remaja 

- Jangan mendorong mereka untuk belajar sampai larut malam. Dorong mereka untuk mempertahankan jadwal yang disiplin.

- Jaga asupan minuman berkafein (Hel)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini