Kasus DBD Meningkat, Ada Hubungannya dengan Covid-19?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 09 Juli 2020 13:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 09 481 2243621 kasus-dbd-meningkat-ada-hubungannya-dengan-covid-19-eAadbJTltR.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KASUS DBD (Demam Berdarah Dengue) semakin meningkat selama pandemi Covid-19. Pemerintah Indonesia terus berupaya menangani krisis kesehatan yang tengah melanda Tanah Air.

Saat ini, beberapa masyarakat mempertanyakan hubungan antara pandemi Covid-19 dengan kasus DBD. Karena kedua penyakit itu sudah mewabah di beberapa daerah di Tanah Air.

Sekadar informasi, Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus DBD tertinggi sepanjang 2020 dengan 10.772 kasus. Disusul oleh Provinsi Bali dengan 8.930 kasus dan Jawa Timur dengan 5.948 kasus.

Sementara tingkat kematian tertinggi akibat DBD dipegang oleh Kota Tasikmalaya dengan 16 kematian, disusul dengan Sikka dengan 15 kematian dan Cirebon yang mencapai 11 kasus.

Baca Juga: Kemenkes: Flu Babi Baru Bisa Jadi Pandemi seperti Covid-19

baca juga

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Ditjen P2P, dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengatakan saat ini sedang melakukan kajian mendalam untuk mengetahui hubungan antara kasus DBD dengan Covid-19. Meski demikian, ia belum bisa memastikan apakah terdapat koinfeksi (infeksi simultan antara dua virus) dalam fenomena ini.

“Kajian tentang Covid-19 sedang berjalan. Saat ini kami sedang melakukan kajian cepat dan akan dimulai di bandung, Jakarta dan Makassar. Hingga saat ini belum ada informasi dari kajian tersebut. Status kejadian luar biasa (KLB) ini dilakukan di kabupaten kota setelah menimbang kondisi yang ada,” terang dr Siti, dalam Jumpa Pers Online bersama Kemenkes RI, Kamis (9/7/2020).

Melihat fenomena tersebut, dr Siti memastikan adanya penularan kasus DBD melalui rumah tangga. Karena peningkatan kasus DBD sudah terjadi saat masyarakat melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Selain itu laporan kasus dari fasilitas kesehatan juga menunjukkan hal yang sama. dr Siti menambahkan, di masa Covid-19 peran juru pemantau jentik (jumantik) ini menjadi terbatas untuk mengingatkan rumah warga akan nyamuk.

"Selama jaga jarak, orang-orang yang berada di rumah jadi bisa melihat pola DBD. Masyarakat jadi mengetahui ada banyak sarang nyamuk yang menyebabkan DBD, sehingga menimbulkan kasus.

"Jadi yang harus kami lakukan adalah memastikan rumah tangga melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini