Netizen Soroti Media China karena Diduga Mengklaim Batik

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 13 Juli 2020 17:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 13 194 2245720 netizen-soroti-media-china-karena-diduga-mengklaim-batik-lVf3ribzuJ.jpg Batik yang digambarkan di media China (Foto: Twitter Xinhua)

Media asal China tengah menjadi bulan-bulanan netizen Indonesia di media sosial. Mereka dikritik karena menggunakan istilah 'batik' untuk menggambarkan teknik mewarnai kain pada produk lokal mereka.

Hal ini bermula dari unggahan video yang dirilis oleh akun twitter resmi China Xinhua News, @XHNews. Pada keterangannya disebutkan bahwa video yang mereka unggah itu merupakan kesenian batik tradisional yang umum dilakukan beberapa etnis di China.

 

"Batik is a traditional craft common among ethnic groups in China. Using melting wax and a spatula-like tool, people dye the cloth and heat it to get rid of the wax. Check out how the ancient craft evolves in modern times. #AmazingChina ," tulis XHNews.

Sontak, perhatian netizen Indonesia tertuju pada penggunaan istilah 'batik' yang sejatinya merupakan salah satu kebudayaan tradisional Jawa. Bila ditelisik dari isi konten video tersebut, proses pewarnaan kain yang mereka gunakan memang mirip dengan batik khas Indonesia.

Untuk membuat dan mewarnai motif pada kain, mereka memakai lilin yang telah dicairkan. Bedanya, di Indonesia lelehan lilin dimasukkan ke dalam gawangan untuk kemudian dituliskan di atas kain, sementara di video ini lilin hanya dijadikan sebagai bahan celupan.

Proses pewarnaan dilakukan memakai sebuah alat berbentuk kuas, di mana bagian ujungnya terbuat dari lempengan besi. Mereka menyebutnya dengan istilah spatula.

Perbedaan selanjutnya juga terlihat pada motif yang dituliskan. Pada video ini motif yang dibuat cenderung tidak serumit batik tulis khas Indonesia, meski masing-masing memiliki keunikannya tersendiri.

Setelah motif selesai dibuat, kain tersebut kemudian dicelupkan ke dalam wadah berisikan cairan pewarna, sebelum akhirnya dijemur hingga kering. Sekilas proses pembuatannya memang mirip seperti batik khas Indonesia.

Hal inilah yang memicu terjadinya perdebatan sengit di media sosial. Mereka merasa keberatan bila media asal China itu menggunakan istilah batik, mengingat UNESCO sendiri telah menetapkan batik sebagi salah satu warisan budaya Indonesia pada 2009 silam.

Seperti yang disampaikan oleh akun @KanjengMammie. Dia mempertanyakan penggunaan kata 'batik' yang sejatinya sudah sangat identik dengan kebudayaan Indonesia terlepas dari sejarah batik yang cukup panjang.

"Batik is original traditional art from Indonesia since hundred years ago NOT from China. How do you get name of Batik for your art???? Why do you using the same name for your traditional craft???," tulisnya.

Baca juga: Gaya Tara Basro dan Daniel Adnan Kompak Pakai Daster, Netizen: The Real Uwu

Terkait hal ini, situs Indonesia Batik yang dikelola langsung oleh Kementerian Informasi dan Teknologi menyebut bahwa batik berasal dari kosa kata bahasa Jawa yakni, amba dan titik. Secara sejarah batik memang berasal dari suku Jawa.

Sempat diklaim Malaysia

Sebelum China, beberapa negara seperti Malaysia juga sempat mengklaim batik sebagai produk budaya mereka.

Namun menurut Zakaria Hamzah, salah satu pegiat batik Nusantara sekaligus COO Alleria Batik, ada beberapa perbedaan yang cukup mendasar bila membandingkan batik Indonesia dengan Malaysia dan negara lainnya. Dan lagi-lagi berkaitan dengan proses pembuatan batik itu sendiri.

“Indonesia itu dikenal dengan batik tulis dan cap. Batik ini selalu konsisten menggunakan teknik tradisional dengan memanfaatkan lilin atau malam. Berbeda dengan Malaysia yang mengandalkan teknik lukis atau biasa kita sebut colet,” tutur Zakaria Hamzah saat dihubungi Okezone.

Dari segi motif dan warna, batik Indonesia menurut Zaka, memiliki motif yang sangat beragam dan mengandung makna filosofis yang mendalam. Sementara Malaysia lebih didominasi oleh motif bunga-bunga.

"Perbedaannya juga bisa dilihat dari warna batik. Malaysia cenderung menggunakan warna-warna terang seperti pink, hijau, ungu, dan kuning karena itu ciri khas orang Melayu. Kalau batik kita kan bisa dikreasikan dengan warna apa saja, karena memang motifnya sangat banyak. Intinya sih, keanekaragaman budaya di Indonesia itu jadi keunggulan kita,” tegas Zaka.

Hal senada juga disampaikan oleh desainer kenamaan Auguste Soesastro yang dikenal sangat concern dengan kain tradisional.

Dia menegaskan bahwa Indonesia adalah pewaris tunggal kain tradisional Batik, sehingga Malaysia bahkan China pun tidak bisa mengklaim batik merupakan kekayaan budaya mereka.

"Ini warisan Indonesia asli, dan tidak bisa diklaim dengan negara lain. Dan sudah diakui oleh UNESCO," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini