Sekolah Mulai Kembali, PMI Ingatkan Jangan Sampai Jadi Kluster Baru

Dewi Kania, Jurnalis · Senin 13 Juli 2020 16:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 13 481 2245652 sekolah-mulai-kembali-pmi-ingatkan-jangan-sampai-jadi-kluster-baru-B3oMZAjZeS.jpg Ilustrasi. (Foto: Newjersey)

PER 13 Juli 2020 sebagian sekolah di zona hijau Covid-19 sudah membolehkan murid kembali bersekolah. Meski berada di zona aman, risiko penularan Covid-19 sangat dikhawatirkan.

Alih-alih bisa menjadi kluster baru, seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Misalnya saja  penularan Covid-19 di lingkungan pondok pesantren, juga kawasan Secapa AD Bandung.

Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia (PMI) Sudirman Said mengatakan, setiap sekolaj tetap harus dipikirkan ulang bagaimana risikonya. Jika penambahan kasus positif penularan Covid-19 masih ada, peluang tingginya risiko penularan pun tak dapat dielak.

"Sepanjang masih ada kemunculan kasus di manapun itu artinya risiko terbuka bagi penularan virus," kata Sudirman.

Belum lagi dengan adanya peringatan WHO bahwa ditemukan penyebaran Covid-19 melalui udara (airborne). Hal ini juga banyak ditemukan di lingkungan pendidikan.

Menurut Sudirman, bukti bahwa risiko penyebaran virus makin tinggi. Sayangnya kewaspadaan masyarakat tampak makin menurun.

"Kita perlu bangkitkan kembali solidaritas warga untuk saling mengingatkan, saling menjaga. Kalau ada penyebaran kasus seperti di Bandung, Surabaya, Semarang, dan lainnya, itu artinya selalu ada risiko penyebaran di tempat-tempat lain," bebernya.

Baca Juga: 4 Masker dengan Desain Lucu yang Cocok untuk Anak-Anak, Apa Saja?

masker

Di Jakarta contohnya, lanjut Sudirman, sudah pernah menurun dan stabil, tetapi sekarang mulai naik lagi kasusnya. Faktornya bisa disebabkan karena transmisi lokal atau disebabkan interaksi warga DKI dengan warga wilayah lain yang masih tinggi angka penularannya.

PMI pun punya langkah antisipasi untuk meminimalisir risiko klaster baru Covid-19 di sektor pendidikan. Sejak Februari 2020, PMI aktif melakukan promosi kesehatan tentang kampanye protokol kesehatan. Mulai April relawan PMI bersama sama dengan elemen masyarakat, dan TNI/POLRI aktif melakukan penyemprotan disinfektasi ke tempat tempat umum, termasuk sekolah, masrasah dan pesantren.

"Dengan usaha yang demikian, kami tetap berpandangan bahwa cara terbaik mengurangi risiko adalah menghindari kerumunan," terangnya.

Ditambahkan dr Laurentius Aswin Pramono, M.Epid, SpPD, Ahli Epidemiologi Klinik dan Penyakit Dalam FKIK Unika Atma Jaya & Rumah Sakit St Carolus, walau berada di zona hijau Covid-19, sekolah-sekolah harus menjalankan protokol kesehatan standar menurut WHO dan Kemenkes RI.

"Kalau masyarakat dan semua pihak menjalankan protokol kesehatan secara baik, angka pertambahan kasus Covid-19 bisa dikendalikan," ujar dr Aswin.

Setiap sekolah harus menerapkan wajib masker kepada siapa saja, menyediakan fasilitas wastafel cuci tangan, pengecekan suhu tubuh, penyemprotan disinfektan, serta mengatur kapasitas ruang kelas.

dr Aswin menambahkan, baik anak-anak maupun orang dewasa, tak boleh mengabaikan protokol kesehatan. Mengingat angka kasus penyebaran Covid-19 sudah lebih dari 75 ribu sejak empat bulan lalu.

"Mereka bisa menjalankannya dan harus mau diatur," pungkasnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini