Istri John Travolta Meninggal Kanker Payudara, Kenali Faktor Penyebab Penyakitnya

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 14 Juli 2020 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 14 481 2246145 istri-john-travolta-meninggal-kanker-payudara-kenali-faktor-penyebab-penyakitnya-gxqbE4UpYF.jpg Istri John Travolta, Kelly Preston meninggal dunia kanker payudara (Foto : @soyvagoficial/Instagram)

Aktris Kelly Preston, istri dari John Travolta dilaporkan meninggal dunia karena kanker payudara. Dia menghembuskan napas terakhir di usia 57 tahun.

Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh John Travolta melalui sebuah unggahan di akun instagram pribadinya.

"Berat rasanya untuk mengabarkan bahwa istriku tercinta Kelly kalah dalam perjuangannya melawan kanker payudara selama 2 tahun. Dengan penuh keberanian ia telah berjuang, bersama cinta dan dukungan dari banyak orang di sekitarnya," tulis John.

Istri John Travlota

Berkaca dari kasus Kelly Preston, ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya kanker payudara. Sayangnya hingga saat ini belum diketahui secara pasti apa penyebabnya.

Satu-satunya yang diketahui ialah kanker payudara berhubungan dengan adanya kerusakan sel-sel DNA. DNA merupakan senyawa kimiawi di dalam sel tubuh yang mengatur gen.

DNA tidak hanya berhubungan dengan kemiripan wajah Anda dengan orangtua atau saudara; beberapa gen juga mengontrol pertumbuhan, pembelahan, dan kematian sel. Sel-sel payudara normal menjadi kanker akibat adanya perubahan (mutasi) pada DNA.

Baca Juga : Intip Momen Vanessa Angel Melahirkan, Bayinya Gemas Banget!

Beberapa mutasi DNA bersifat keturunan. Tetapi, sebagian besar perubahan DNA pada kanker payudara lebih banyak terjadi karena gaya hidup dibandingkan genetik.

Lalu, mengapa kanker payudara bisa terjadi pada seseorang? Kanker terjadi ketika sel-sel di dalam jaringan tubuh tumbuh dan berkembang secara abnormal dan menyerang sel-sel sehat.

Istri John Travolta

Penumpukan sel-sel ini dapat membentuk massa pada jaringan yang disebut benjolan atau tumor. Kanker payudara terjadi ketika tumor ganas berkembang di dalam payudara. Sel-sel tersebut dapat menyebar dan masuk ke pembuluh darah ataupun limfe yang terhubung dengan jaringan di seluruh tubuh.

Perubahan dan kerusakan pada gen BRCA1 dan BRCA2 (yang bersifat menahan pertumbuhan sel abnormal) dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Perubahan pada gen ini dapat diturunkan dari orangtua. Ketika salah satu dari gen tersebut berubah, maka gen tersebut tidak dapat menahan pertumbuhan sel abnormal sehingga lebih mudah bagi sel kanker untuk berkembang.

Wanita yang memiliki ibu, saudara perempuan, atau anak dengan riwayat kanker payudara juga lebih rentan dua hingga tiga kali mengalami kanker payudara. Di samping itu, radiasi dan zat kimiawi yang bersifat karsinogenik juga berperan besar terhadap perubahan sel DNA sehingga menjadi sel kanker.

Kanker payudara juga dihubungkan dengan ekspos terhadap hormon estrogen. Hormon estrogen berpengaruh karena dapat ‘menyuruh’ sel-sel untuk membelah. Artinya, semakin banyak sel yang membelah, semakin besar pula kemungkinan sel menjadi abnormal dan menjadi sel kanker.

Ya, memang ada banyak faktor yang bisa memicu kanker payudara. Wanita yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara memang berisiko lebih besar terkena kanker payudara. Namun, memiliki faktor risiko tak langsung memastikan Anda terkena kanker payudara. Waspadalah dan lakukan pemeriksaan sejak dini.

Bisa kambuh meski telah dinyatakan sembuh

Sementara itu, Ahli dan Pemerhati Kanker Prof Dr dr Soehartati A Gondhowiardjo, SpRad(K), OnkRad, menjelaskan bahwa penyintas kanker payudara juga memiliki potensi mengidap kembali penyakit tersebut. Faktor tersering adalah kanker tergolong tumor ganas atau benjolan yang tidak normal di badan dan tidak punya batas.

Oleh karena itu, para pasien kanker sebelum menjalani pengobatan, harus diperiksa terlebih dulu seluruh fungsi organ di tubuhnya. Mulai dari liver, tulang, otak, paru, dan masih banyak lagi.

Bila ada organ yang sekiranya bisa dihinggapi sel kanker, ada kemungkinan pasien akan mengidap kanker stadium empat. Kalau sudah demikian, pengobatannya pun akan menjadi berbeda.

"Gambarannya seperti ini, satu titik ujung bolpoin ini, isinya 10 pangkat sembilan kalau kanker. Sel-sel itu kecil sekali. Jadi ada kemungkinan saat dinyatakan bersih ya mungkin hanya saat itu saja," ungkap Prof Soehartati.

Kanker Payudara

Contoh paling sederhana bisa merujuk pada kanker payudara. Pasien yang mengidap penyakit ini diklaim memiliki kemungkinan kambuh yang lebih besar dibandingkan jenis kanker lainnya.

"Dua tahun pertama itu paling sering terjadinya kekambuhan. Kemarin ada yang datang ke saya, dia bilang pernah berobat sama saya tahun 1991 artinya sudah 27 tahun lalu, tapi kambuh dan muncul lagi," tutur Prof Soehartati.

Untuk menghindarinya, Prof Soehartati selalu menganjurkan kepada semua pasien agar melakukan kontrol sepanjang hidupnya. Karena sewaktu-waktu, sel kanker itu bisa muncul lagi tanpa disadari.

"Saya tegaskan semua kanker memiliki kemungkinan untuk kambuh. Jadi meski sudah dinyatakan sembuh, harus tetap kontrol secara rutin," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini