Main Game Sebulan Penuh, Remaja 15 Tahun Terserang Stroke

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 15 Juli 2020 16:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 15 481 2246757 main-game-sebulan-penuh-remaja-15-tahun-terserang-stroke-ocUNFvO9U9.jpg Ilustrasi remaja bermain game (Foto : Timesofindia)

Seorang bocah China berusia 15 tahun dilarikan ke rumah sakit pada Maret 2020 setelah pingsan di rumahnya yang terletak di kota Nannning. Bocah malang itu didiagnosis menderita stroke yang membuat lengan kirinya lumpuh.

Sebelum terserang stroke, bocah itu menghabiskan waktunya selama sebulan terakhir untuk bermain game. Ia bahkan hanya tidur dua jam dalam semalam. Siswa kelas 9 itu diketahui bernama Xiaobin.

Ia telah berada di rumahnya sejak Februari 2020 karena China memberlakulan status lockdown akibat pandemi Covid-19. Orang tuanya mengatakan kepada dokter bahwa dia menghabiskan sebagian besar waktu di kamarnya.

Melansir dari Oddity Central, Rabu (15/7/2020), Xiaobin beralasan mengambil kelas online, tapi sang orangtua mengetahui bahwa dia sebenarnya menghabiskan hari-harinya untuk bermain video game.

Stroke

Menurut para ahli medis di Rumah Sakit Jiangbin, bermaim game terlalu lama menjadi penyebab utama stroke. Padahal penyakit ini tidak biasa menyerang pada anak. Alhasil penyakit yang dialami Xiaobin membuatnya lengan dan tangannya menjadi lumpuh.

“Dia menutup jendela dan mengunci pintu. Kami tidak tahu apa yang dia lakukan di sana. Saya melihat percakapan online-nya dengan teman-teman. Dia mengatakan dia tidak cukup istirahat dan tidur paling banyak dua jam sehari,” jelas ibu Xiaobin.

Baca Juga : Pesona Hana Hanifah Berbalut Busana Berwarna Putih, Cantiknya Enggak Ngebosenin!

Setelah pingsan di rumahnya, Xiaobin dilarikan ke rumah sakit. Hasil CT scan mengungkapkan bahwa ia menderita stroke. Spesialis Otak, dr. Li mengatakan bahwa kondisi ini sangat tidak biasa pada usia yang sangat muda. Ia menduga kemungkinan besar penyakit yang dialami Xiaobin disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat yang telah dilakukannya selama sebulan terakhir.

“Alasan utamanya adalah dia memiliki pola tidur dan makan yang tidak teratur karena dia tidak di sekolah. Orangtua juga terlalu menoleransi perilakunya. Kurangnya nutrisi dan istirahat telah menyebabkan berkurangnya jumlah darah dan oksigen di otaknya dan menyebabkan stroke otak,” terang dr. Li

Saat ini Xiaobin telah menjalani perawatan rehabilitasi di Rumah Sakit Jiangbin sejak Maret 2020. Tetapi dokter sulit untuk mengatakan apakah ia akan pulih secara penuh, atau bahkan mendapatkan kecacatan pada lengan dan tangan kirinya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini