Mengenal Sindrom Patah Hati, Apa Itu?

Kamis 16 Juli 2020 10:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 16 481 2247200 mengenal-sindrom-patah-hati-apa-itu-mr0s4CgPoL.jpg Sindrom patah hati (Foto: Pixabay)

Dampak pandemi Covid-19 rupanya sangat banyak, baik fisik maupun emosional. Dokter di satu sistem rumah sakit Ohio menemukan dampak dari pandemi Covid-19, yakni sindrom patah hati.

 patah hati

Lalu apa sih sindrom patah hati itu?

Sindrom patah hati oleh dokter disebut stress cardiomyopathy. Ini mirip serangan jantung dengan gejala seperti nyeri dada dan sesak napas. Namun, penyebabnya berbeda.

Para ahli percaya itu menandakan kelemahan sementara pada otot jantung karena lonjakan hormon stres.

Seperti dilansir dari Sindo News, di dua rumah sakit Klinik Cleveland, diagnosis stres kardiomiopati meningkat pada minggu-minggu awal pandemi Covid-19. Selama bulan Maret dan April, studi baru menemukan, stres kardiomiopati didiagnosis pada hampir 8% pasien yang tiba di gawat darurat dengan nyeri dada dan gejala jantung lainnya.

dr. Ankur Kalra, seorang ahli jantung yang bekerja pada penelitian ini mengatakan, kondisi ini ditemukan empat sampai lima kali lebih tinggi dari tingkat yang terlihat pada periode pra-pandemi, yang berkisar antara 1,5% dan 1,8%. Sementara Covid-19 dapat menyebabkan komplikasi jantung, tidak ada pasien dengan stress cardiomyopathy yang dites positif untuk infeksi.

 Baca juga: 4 Potret Liburan Manja Hana Hanifah ke Bali hingga Italia

"Itu menunjukkan ini bukan cerminan dari virus, tetapi tekanan dari pandemi," kata Kalra seperti dilansir dari WebMd belum lama ini.

Stress cardiomyopathy adalah diagnosis yang relatif baru, dan dokter masih berusaha untuk memahami sepenuhnya. Tapi kondisi ini mendapat julukan sindrom patah hati karena mungkin muncul setelah peristiwa yang sulit secara emosional, seperti perceraian atau kematian orang yang dicintai.

Namun, situasi stres lainnya seperti dari kecelakaan lalu lintas hingga operasi juga bisa menjadi pemicu sindrom patah hati.

Dr. David Kass, seorang profesor kardiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore menjelaskan, kondisi itu mungkin tidak muncul segera setelah pemicunya.

Kass mengatakan seseorang dapat, misalnya, mengembangkan stres kardiomiopati setelah mengalami gempa bumi kemudian berurusan dengan rasa takut yang lain. Kondisi ini diperkirakan terjadi ketika otot jantung diliputi oleh banjir katekolamin atau lebih dikenal sebagai hormon stres dan sementara mengurangi kemampuan memompa jantung.

Kondisinya ini cukup berbeda dari serangan jantung. Tidak ada penyumbatan di arteri, dan sel-sel otot jantung mungkin terpana untuk sementara, mereka tidak mati.

Namun, dr. James Januzzi, ahli jantung di Massachusetts General Hospital di Boston dari American College of Cardiology menyebutkan bahwa gejalanya menyerupai serangan jantung, tapi saat tes dilakukan, ditemukan penyebab sebenarnya semakin jelas.

Januzzi menjelaskan, stres kardiomiopati terlihat berbeda dari serangan jantung pada elektrokardiogram, yang mengukur aktivitas listrik jantung. Ketika dokter melakukan angiogram untuk mengintip ke dalam arteri jantung, mereka tidak akan menemukan penyumbatan pada pasien dengan kardiomiopati stres.

Kabar baiknya, menurut Januzzi, orang-orang dengan kondisi ini biasanya pulih dengan cepat, tanpa kerusakan jantung jangka panjang. Kass mengatakan bahwa mengingat semua tekanan pandemi, mulai dari ketakutan akan virus hingga kehilangan pekerjaan hingga isolasi sosial tidak sulit untuk membayangkan mengapa stres kardiomiopati meningkat.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini