Sulit Ubah Paradigma Anak, Jika Tenaga Pendidik Tak Mau Berubah

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 19 Juli 2020 16:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 19 196 2248800 sulit-ubah-paradigma-anak-jika-tenaga-pendidik-tak-mau-berubah-HSyOAnWKEM.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

ANAK-ANAK zaman sekarang memang cenderung lebih kreatif, dan cepat beradaptasi dengan kondisi di sekitarnya. Oleh karena itu, para pendidik juga harus mengubah paradigma yang ada.

Peneliti utama bidang Kebijakan Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ir. Hendarman, M.Sc, P.hD, mengatakan, bila para pendidik enggan memulai dari diri mereka sendiri, maka akan sangat sulit untuk mengubah paradigma anak.

"Selain itu, mas menteri (Nadiem Makarim) pernah mengatakan, bahwa pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak akan mungkin terjadi apabila hanya 1 elemen saja yang bekerja. Semuanya bisa tercapai, namun kita harus bersinergi bersama," jelas Hendarman.

Hal senada juga disampaikan oleh Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, Rektor Universitas YARSI sekaligus mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional 2010-2011. Menurutnya, demi mencapai target Indonesia Emas, pembentukan karakter anak memang harus dilakukan sedini mungkin dan maksimal.

Dalam arti, kualitas parenting orangtua lah yang akan menentukannya. Dia pun mengutip kalimat yang sempat disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yakni selama ini masyarakat Indonesia hanya melihat karakter dalam konsep moralitas.

Pada praktiknya, proses pembentukan karakter juga terbagi menjadi sejumlah kategori. Salah satu yang terpenting adalah karakter kinerja. Jenis karakter inilah yang diperlukan untuk merealisasikan target Indonesia Emas.

"Karakter kinerja itu sering luput dari perhatian kita. Padahal, karakter inilah yang membentuk anak untuk memiliki kejujuran, integritas, inisiatif, rasa tanggung jawab, dan etos kerja. Karakter inilah yang harus kita latih, karena sekarang yang serba 'instan' itu sedang marak," katanya.

Fasli menambahkan, bagian terpenting dalam pembentukan karakter ini adalah memulainya sejak di bangku PAUD dan Sekolah Dasar (SD). Banyak orangtua yang terkadang menyekolahkan anaknya di PAUD atau SD, tapi justru menelantarkan pembangunan karakter mereka.

"Padahal karakter itu menjadi fondasi utama dalam kehidupan mereka kelak, apakah ke depannya mereka akan memiliki karakter seperti batu cadas, kayu, atau justru pasir yang dapat hilang begitu saja. Oleh karena itu, kita memerlukan komunitas yang saling bahu membahu, dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat," papar Fasli.

"Kita harus bisa memberikan contoh-contoh. Dan ketika keteladanan ini mereka lihat dengan baik, mereka akan mulai menginternalisasikan dan akhirnya terbiasa," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini