Psikolog Meiske Suparman ungkap 3 Aspek Pembentuk Karakter Anak

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 19 Juli 2020 17:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 19 196 2248813 psikolog-meiske-suparman-ungkap-3-aspek-pembentuk-karakter-anak-bRxTRehn3u.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MEMBENTUK karakter anak sejak dini memang sangat penting demi kemajuan sebuah bangsa. Karena dengan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) inilah setiap negara dapat menunjukkan kualitas karakter bangsa mereka.

Pemerintah Indonesia pun sebetulnya telah mencanangkan program Indonesia Emas yang ditargetkan akan tercapai pada tahun 2045 mendatang. Program ini merupakan salah satu prioritas pemerintah yang sudah mulai dilakukan sejak awal 2020 sesuai mandat Presiden Joko Widodo.

Karenanya, guna merealisasikan visi dari program ini, psikolog sekaligus pengurus dan relawan Yayasan Amal Bhakti Ibu Indonesia (YABII), Meiske Y. Suparman M. Psi, kembali mengingatkan masyarakat Indonesia pentingnya membentuk karakter anak sejak dini.

"Seumur hidup kan kita terus belajar menjadi lebih baik, dan ini menjadi PR besar kita," kata Meiske dalam webinar bertajuk 'Membentuk Karakter Anak Indonesia Menuju Indonesia Emas', Minggu (18/7/2020).

Lebih lanjut Meiske memaparkam 3 aspek yang perlu diperhatikan dalam proses pembentukan karakter pada anak, yakni kognitif (pikiran), emotion (rasa), dan behaviour (perilaku). Dengan mengacu pada tiga aspek inilah, proses pembentukan karakter anak dapat dilakukan dengan baik.

"Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara mengetahui karakter kita dan anak-anak? Ini bisa dilakukan dengan mengajak mereka melihat suatu kejadian. Misalnya ada demonstrasi, pencopetan, atau kerumunan massa. Apa sih yang terlintas di pikiran mereka saat melihatnya? Ini cara untuk melatih karakter secara kognitif," ungkap Meiske.

Lebih lanjut Meiske mengatakan, pembentukan karakter juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar. Dia kemudian mengutip teori ekologi milik Urie Bronfenbrenner.

psikolog meiska

Secara singkat, teori ini menjelaskan bahwa perkembangan manusia merupakan hasil interaksi atau transaksi antara kekuatan internal (organisme dengan berbagai atributnya/dari diri sendiri) dan kekuatan eksternal (lingkungan maupun sosial).

Interaksi antara individu dengan lingkungan dipandang positif apabila interaksi tersebut berlangsung dalam proses yang saling menguntungkan (mutual), dan fungsional yang artinya lingkungan tersebut mampu memberikan kemudahan, kesempatan atau peluang, stimulus atau dorongan, dan keteladanan bagi berkembangnya fitrah, potensi atau kompetensi pribadi secara bermakna.

"Itulah sebabnya, pembentukan karakter anak harus dimulai dari orangtua sampai dengan pemimpin negara sebagai teladan atau panutan," tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, Rektor Universitas YARSI sekaligus mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional 2010-2011. Menurutnya, demi mencapai target Indonesia Emas, pembentukan karakter anak memang harus dilakukan sedini dan semaksimal mungkin.

Fasli menambahkan, bagian terpenting dalam pembentukan karakter ini adalah memulainya sejak di bangku PAUD dan Sekolah Dasar (SD). Banyak orangtua yang terkadang menyekolahkan anaknya di PAUD atau SD, tapi justru menelantarkan pembangunan karakter mereka.

"Padahal karakter itu menjadi fondasi utama dalam kehidupan mereka kelak, apakah ke depannya mereka akan memiliki karakter seperti batu cadas, kayu, atau justru pasir yang dapat hilang begitu saja," katanya.

"Oleh karena itu, kita memerlukan komunitas yang saling bahu membahu, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat," papar Fasli.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini