Hukuman Membuat Punya Banyak Dampak Negatif pada Anak, Begitu Juga Hadiah

INews.id, Jurnalis · Senin 20 Juli 2020 19:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 20 31 2249347 hukuman-membuat-punya-banyak-dampak-negatif-pada-anak-begitu-juga-hadiah-YS8dqiGCgI.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MOTODE mengasuh anak memang beragam, tergantung dari lingkungan sekitar dan keluarga. Oleh karena itu, ada metode halus, disiplin, hingga keras yang digunakan orangtua.

Meski demikian, semuanya sangat bertujuan untuk meningkatkan tumbuh kembang anak. Ketahanan anak dalam menghadapi tantangan pun meningkat, serta membantu mereka berkembang secara sosial.

Dokter spesialis anak dari Jakarta Child Development Center (JCDC), dr. Vinia Rusli, Sp.A memaparkan, perkembangan anak terjadi dari hubungan antara faktor biologis, kognitif, dan sosio-emosional.

"Dalam proses perkembangan itu, anak diibaratkan pohon di mana akar-akarnya merupakan kapasitas dan potensinya, lalu keluarga ataupun orang di sekitar anak merupakan tanahnya yang berperan besar dalam proses perkembangan,” kata dr Vinia seperti dilansir dari iNews.

 

Dokter Vinia menjelaskan, orangtua harus dapat melihat pertumbuhan anak. Salah satunya bisa dilihat dari perubahan pada fisik anak yang dapat diukur, misalnya berat badan, tinggi, lingkar kepala.

"1.000 hari pertama atau semenjak dalam kandungan hingga usia 2 tahun adalah masa emas, karena otak berkembang dari masa kandungan hingga usia 2 tahun. Penting bagi orangtua memerhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak di 1.000 hari pertama, orangtua perlu memerhatikan nutrisi dan stimulasi perkembangan semenjak dalam kandungan hingga usia 24 bulan atau 2 tahun," kata dia.

Anak-anak

Baca Juga: Pola Asuh Tepat untuk Anak, Salah Satunya Jangan Mengimingi dengan Hadiah

Bahkan lanjutnya, ketika merencanakan kehamilan, orangtua juga harus sudah mempersiapkan atau memikirkan nutrisi dan stimulasi apa yang dibutuhkan oleh anak.

Founder dan Direktur Jakarta Child Development Center (JCDC) Nadia Emanuella Gideon, M.Psi mengungkapkan, cara pengasuhan yang dilakukan orangtua berperan besar bagi perkembangan anak itu sendiri.

“Orangtua umumnya menggunakan motivasi dari luar diri anak yaitu hadiah atau hukuman yang justru memiliki banyak dampak negatif pada anak dan cara ini tidak melihat kemampuan berpikir, perasaan, dan fondasi biologis dari manusia untuk menjalin hubungan,” kata Nadia.

Nadia juga memaparkan data peningkatan kekerasan yang dilakukan anak, peningkatan penggunaan obat terlarang, dan perilaku negatif lainnya di Indonesia maupun negara lainnya. Hal itu menunjukkan adalah kesalahan dalam memahami perilaku anak dan pendekatan yang dilakukan selama ini kurang efektif.

Menurut Nadia, perkembangan anak perlu dimulai dan didasari oleh adanya interaksi dan koneksi yang hangat antara anak dengan orangtua ataupun orang dewasa di sekitar anak.

Menurutnya, salah satu pendekatan yang terbukti berhasil membantu mengatasi perilaku sulit pada anak dan mendorong optimalisasi perkembangan anak disebut sebagai DIR Floortime.

“DIR Floortime mendorong proses perkembangan anak (D - Development) dan memahami serta mendorong keunikan individu (I - Individual Difference), dengan didasari proses yang menyenangkan dan berbasis interaksi-Relasi-koneksi antara anak dengan orang di sekitarnya untuk mendorong potensi anak terpenuhi. Hubungan tersebut dilihat sebagai bensin dari perkembangan anak,” ujar Nadia.

Menerapkan pendekatan DIR Floortime, Jakarta Child Development Center, kata Nadia, hadir di Jakarta sebagai salah satu pusat tumbuh kembang bagi anak dan orangtua.

Menurutnya DIR Floortime sudah teruji dan terbukti secara efektif dari sejumlah hasil penelitian untuk membantu mengoptimalkan perkembangan anak dan mengurangi tingkat stres pada pengasuh, serta meningkatkan hubungan antara anak dan pengasuhnya.

“Hal itu juga dipaparkan melalui bukti-bukti penelitian yang dilakukan secara luas dalam kasus-kasus perkembangan, trauma, emosional, dan masalah lainnya,” tutur Nadia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini