Jaga Kemampuan Kognitif, Orangtua Harus Pastikan Anak Cukup Asupan Air

Selasa 21 Juli 2020 18:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 21 481 2249971 jaga-kemampuan-kognitif-orangtua-harus-pastikan-anak-cukup-asupan-air-UUIwqxlXoi.jpg Minum air putih (Foto: pixnio)

Di tengah pandemi Covid-19, orangtua memerlukan strategi baru agar anak-anak tetap fokus belajar di rumah. Selain itu mereka juga perlu menjaga kemampuan kognitif anak tidak menurun selama periode ini.

Fungsi kognitif terlibat dalam segala hal yang mungkin dilakukan manusia, mencakup semua proses untuk memahami, fokus atau konsentrasi, berpikir dan mengingat, termasuk juga untuk merasakan emosi.

 minum

Kemampuan kognitif anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Namun, tidak banyak orang tahu bahwa hidrasi sehat atau asupan air minum yang cukup dan berkualitas merupakan salah satu faktor penting untuk perkembangan kognitif yang optimal pada anak.

Menurut Pakar Hidrasi dari Indonesian Hydration Working Group (IHWG) dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), M.P.H, kebutuhan cairan anak-anak berbeda dengan orang dewasa.

“Anak usia 4-6 tahun membutuhkan kurang lebih 6 gelas (1,2 liter) air minum setiap hari, sementara anak usia 7-12 tahun membutuhkan kurang lebih 7 gelas (1,5 liter) per hari,” ujar dr. Bernie, Selasa, (21/7/2020).

Seperti dilansir dari Sindo News, untuk mencukupi kebutuhan cairan, mengonsumsi air yang berkualitas juga merupakan hal penting. Air berkualitas memiliki syarat tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, dan tidak mengandung zat berbahaya.

Air juga harus mengandung mineral seperti zinc (Zn), magnesium (Mg), natrium (Na), dan selenium (Se) yang dapat membantu memaksimalkan fungsi organ tubuh, serta silika yang mengandung zat gizi berguna untuk pemeliharaan kesehatan tulang dan jaringan pada manusia, termasuk anak.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan tambahan minum 200–400 ml atau 1-2 gelas sebelum belajar dapat meningkatkan performa siswa dalam memperkuat daya tangkap visual dan memori mereka, sehingga akan membantu proses belajar untuk meningkatkan prestasi.

Namun sayang, pada kenyataannya data menunjukkan bahwa 1 dari 5 anak dan remaja di Indonesia belum mencukupi kebutuhan hidrasi mereka. Tak hanya dalam hal pemenuhan hidrasi, secara umum mengajak anak mengadopsi kebiasaan baru memang tidak mudah.

 Baca juga: Serunya Keluarga Kecil Cut Meyriska dan Roger Danuarta Lakukan Photoshoot

Psikolog Anak sekaligus Co-Founder Rumah Konsultasi Tiga Generasi Saskhya Aulia Prima, M.Psi mengatakan, tantangan yang belakangan muncul bagi orangtua adalah sulitnya menjaga motivasi belajar dan melawan kebosanan anak saat pembelajaran dilakukan di rumah.

“Ditambah lagi selama belajar daring, tingginya frekuensi anak mengakses layar gawai otomatis mengurangi aktivitas mereka bergerak aktif dan memicu bosan. Padahal, di masa anak-anak seperti ini sangat dibutuhkan stimulasi lewat gerak aktif dan aktivitas eksplorasi kreatif untuk menunjang perkembangan kognitif secara optimal,” kata Saskhya.

Saskhya menambahkan, kunci untuk membiasakan anak melakukan kebiasaan baru adalah dengan membangun rutinitas harian dan membuatnya menjadi lebih menyenangkan. Orangtua juga memiliki peran penting dalam memberikan contoh kebiasaan baik pada anak, baik dalam proses belajar maupun menjaga gaya hidup sehat.

“Memang kebiasaan baik akan lebih mudah ditiru oleh anak jika dilakukan oleh orangtua. Misalnya untuk mengajak anak aktif, terlebih dulu orangtua menerapkan kebiasaan memulai hari dengan olahraga ringan. Begitu pula dengan mengonsumsi air minum. Orangtua harus kreatif menjadikan minum air sebagai bagian dari rutinitas yang menyenangkan," terangnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini