Ini Pesan Perempuan yang Kehilangan Keluarganya Akibat Covid-19

Wilda Fajriah, Jurnalis · Jum'at 24 Juli 2020 08:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 24 196 2251314 ini-pesan-perempuan-yang-kehilangan-keluarganya-akibat-covid-19-lEEZbQt5IJ.jpg Sekeluarga kena Covid-19 (Foto: Shutterstock)

Perempuan asal Surabaya, Dea kehilangan satu keluarganya akibat Covid-19 dalam kurun waktu 4 hari. Dia mengaku kehilangan ayah, ibu, kakak, serta janin yang sedang dikandung kakak iparnya.

"Enggak bisa lihat ayah dan kakakku terakhir kalinya. Ini mama, aku ingin melihat yang terakhir kalinya, untungnya bisa melihat selama 5 menit untuk yang terakhir kalinya," ungkapnya dalam video VOA yang dikutip dari akun Instagram @mimi.julid, Jumat (24/7/2020).

Hal ini berawal dari kakak ipar Dea yang mengaku merasa tidak enak badan setelah pulang dari Rumah Sakit untuk mengecek kandungan istrinya yang bernama Debby.

 Dea

(Foto: VOA)

"Jadi meriang, flu, kemudian demam tinggi. Nah, kami enggak nyangka bahwa itu Covid-19," tutur Dea.

Tak lama kemudian, Debby juga merasakan gejala yang sama seperti apa yang dialami suaminya. Ia sudah melakukan tes Covid-19, tetapi hasilnya menunjukkan bahwa ia non-reaktif.

"Lagi-lagi kami sekeluarga mengira bahwa, oh ini aman. Karena hasilnya non reaktif gitu, itu bukan Covid-19," ujarnya.

Dari hal tersebut, lanjut Dea, kemudian itu menular ke mama dan papanya. Keluarga Dea harus berjuang untuk mendapatkan perawatan yang layak.

Beberapa kali keluarganya dipulangkan oleh pihak rumah sakit agar melakukan isolasi mandiri karena kapasitas rumah sakit yang penuh.

"Pada akhirnya tanggal 29 Mei itu mereka berdua (ayah dan ibu) dilarikan ke rumah sakit. Karena memang kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk isolasi mandiri," jelasnya.

Pada keesokan harinya, tepatnya pada 30 Mei 2020, ayah Dea pun meninggal. Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit selama satu malam. Pemakaman pun dilakukan sesuai prosedur tetap Covid-19.

"Keesokannya lagi, Debby dan janinnya juga dinyatakan meninggal. Nah waktu kakakku meninggal dunia itu aku larang semua keluarga aku supaya tidak memberi tahu mama, karena aku takut kondisinya semakin menurun," ucapnya sambil terisak.

Jadi, Dea mengaku, sampai ibunya meninggal, ia tidak tahu kalau anaknya sudah meninggal lebih dulu. Ibu Dea meninggal setelah 2 hari kematian Debby.

Seperti peraturan terkait Covid-19 yang sudah diterapkan, Dea tidak diperbolehkan untuk melihat jenazah.

 Baca juga: Viral Bocah 5 Tahun Hidup Bersama Ibunya yang Buta, Haru Sekaligus Bangga

"Aku enggak bisa lihat jenazah papa dan kakak. Tapi begitu mama meninggal, aku kaget, syok, benar-benar kehilangan banget," tuturnya.

Akhirnya, Dea pun meminta izin kepada pihak rumah sakit untuk melihat jenazah ibunya. Akhirnya pihak rumah sakit pun membolehkan Dea untuk ikut ke proses pemandian jenazah.

"Jadi aku dikasih APD lengkap walaupun aku hanya mampu bertahan 5 menit," katanya.

Setelah ibunya meninggal, Dea pun dinyatakan positif corona. Ia harus melakukan isolasi mandiri selama 1 bulan lebih. Setelah di tes kembali, ia pun dinyatakan negatif Covid-19.

Dea berpesan, jangan sampai kita baru percaya bahwa corona itu ada setelah kita sendiri yang mengalami atau ketika sudah kehilangan orang terdekat.

"Cukup pakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan. Sesederhana itu saja," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini