Melampiaskan Kekecewaan dengan Mabuk-mabukkan Usai Batal Menikah, Apakah Efektif?

Wilda Fajriah, Jurnalis · Selasa 28 Juli 2020 14:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 28 196 2253334 melampiaskan-kekecewaan-dengan-mabuk-mabukkan-usai-batal-menikah-apakah-efektif-W9MBEf7hms.jpg Mabuk-mabukkan karena batal nikah (Foto: Depositphotos)

Setiap orang punya cara untuk melampiaskan rasa sedih serta kekecewaannya usai batal menikah. Batal menikah dapat memicu rasa kecewa yang mendalam hingga menyebabkan stres bahkan depresi.

Ada yang memilih untuk melakukan terapi dengan para profesional, melakukan hal positif, bahkan ada juga yang memilih untuk melampiaskan rasa sedih dan kecewanya dengan hal-hal negatif. Seperti berjudi, mabuk-mabukkan, bahkan melakukan seks bebas.

 mabuk-mabukkan

Jika seseorang menempuh jalan negatif tersebut, ada kemungkinan mereka sudah memasuki tahap depresi. Psikolog Meity Arianti mengatakan, setiap orang punya caranya sendiri untuk melampiaskan kekecewaan, tetapi memilih untuk melakukan suatu hal yang negatif merupakan langkah yang kurang efektif.

"Setiap orang punya caranya masing-masing. Namun apakah dengan mengonsumsi alkohol, mabuk-mabukkan di bar, dan menjauh dari Tuhannya bisa membuat dia merasa lebih baik? Kalaupun iya, mungkin hanya sementara saja," tutur Meity ketika dihubungi Okezone melalui pesan teks.

 Baca juga: Pengen Liburan ke Candi Arjuna? Ikuti Sederet Protokol Kesehatan Ini Yuk

Pasalnya, kegiatan negatif tersebut justru dapat memicu risiko lain yang mungkin timbul. Risiko baru yang bisa saja timbul ini akan membuat seseorang kecewa untuk yang kedua kalinya.

Seperti munculnya suatu penyakit karena terlalu sering mengonsumsi alkohol, bangkrutnya ekonomi karena kalah berjudi, atau bahkan terjangkit penyakit menular seksual akibat dari seks bebas yang dilakukannya. Rasa penyesalan terhadap hal tersebut dapat menimbulkan depresi tahap dua.

Oleh karena itu, Meity mengatakan, melampiaskan kekesalan dengan jalan negatif tidaklah efektif. Tetapi ada kemungkinan seseorang kembali ke jalan yang baik karena penyesalan yang dirasakan.

"Sebenarnya hal itu sifatnya hanya sementara. Ketika ia sadar, ia akan kembali ke kenyataan dan pada akhirnya menyesal karena memilih jalan yang kurang bijak saat menghadapi persoalan," pungkasnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini