Menjaga Gizi Anak di Tengah Pandemi, Jangan Terlalu Banyak Konsumsi SKM

INews.id, Jurnalis · Selasa 28 Juli 2020 16:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 28 196 2253447 menjaga-gizi-anak-di-tengah-pandemi-jangan-terlalu-banyak-konsumsi-skm-SasWCByx2u.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PANDEMI corona covid-19 membuat banyak orang kesulitan mendapatkan makanan yang layak. Banyak kekhawatiran akan persebaran virus tersebut terjadi melalui makanan.

Selain itu, pandemi covid-19 yang mempengaruhi ekonomi sebuah keluarga juga menjadi faktor lain yang harus diperhitungkan. Pasalnya, banyak anak di Indonesia terancam gizi buruk karena ekonomi keluarga yang memburuk.

Padahal, gizi yang baik dibutuhkan untuk tumbuh kembang dan ketahanan tubuh (imunitas) anak di tengah wabah Covid-19. Untuk mencukupi kebutuhan gizi, beberapa orangtua memberikan susu kental manis (SKM). Padahal, ini tidak dianjurkan karena bukan pengganti ASI.

Aktivis kesehatan anak, Yuli Supriati mengatakan, banyak masyarakat yang tidak tahu susu kental manis tidak baik dikonsumsi anak-anak. Ini karena SKM rendah protein dan tinggi gula.

Anak masak

Baca Juga: Jaga Imunitas Anak di Tengah Covid-19, Konsumsi Gizi yang Baik Diperlukan

"Hasil kunjungan kami ke Puskesmas Tigaraksa beberapa waktu lalu, didiapati 36 anak usia di bawah 5 tahun berada dalam status gizi kurang. Sebanyak 21 anak di antaranya berada pada rentang usia 1-2 tahun," ujar Komisioner Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) seperti dilansir dari iNews.

Dokter spesialis anak yang juga tim ahli Satgas Covid-19 Tangerang Selatan (Tangsel) Tubagus Rachmat Sentika, membenarkan susu kental manis (SKM) tidak untuk diberikan kepada anak-anak apalagi untuk pengganti ASI. “Karena kandungan gulanya yang tinggi, kental manis tidak untuk anak-anak. Anak yang meminum kental manis akan mengalami kegemukan, gigi keropos dan tidak sehat,” katanya.

Mantan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan itu mengungkapkan calon ibu perlu memperhatikan gizi lengkap dan seimbang seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan air. Sebab hal itu akan mempengaruhi bayi mereka yang akan lahir kelak.

“Baik bayi, balita, ibu hamil, sampai lansia semuanya memerlukan gizi, cuma bentuknya berbeda-beda. Kalau bayi itu bentuknya cair makanan pendamping ASI tapi setelah 6 bulan 1 tahun harus ditambahkan dengan makanan-makanan lain,” kata dr Tubagus.

Khusus untuk ibu hamil, yang perlu diperhatikan adalah pembentukan organ-organ setelah 8 minggu atau 4 bulan 10 hari. Di sini sangat dibutuhkan asam folat, tablet zat besi (Fe) untuk pembentukan 25 persen perkembangan otak calon bayi. Setelah 2- 3 tahun otak anak akan berkembang menjadi menjadi 80 persen dan setelah 6 tahun jadi 95 persen.

“Ini yang dinamakan golden period, yaitu masa emas atau 1.000 hari pertama kehidupan atau masa-masa pembentukan otak. Karena itu, protein asam amino harus cukup, karbohidrat cukup, semua harus cukup,” ujarnya.

Selanjutnya, harus dipantau sesuai dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Dia menjelaskan waktu lahir badannya 3 kg, 1 tahun jadi 9 kg atau 3 kali berat badan lahir, 5 atau 6 bulan 2 kali berat badan lahir atau 9 kg dan 3 tahun seharusnya 11 kg lebih.

Tentunya, semua ada grafiknya untuk menjadi panduan dan antisipasi pada pertumbuhan anak. “Kalau dia di bawah garis merah, jadi gizi buruk dan nanti setelah 3 tahun jadi stunting,” katanya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini