Ada Karyawan Positif Covid-19 di Kantormu, Tracing Rapid Test Aja Enggak Cukup!

Wilda Fajriah, Jurnalis · Selasa 28 Juli 2020 13:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 28 481 2253255 ada-karyawan-positif-covid-19-di-kantormu-tracing-rapid-test-aja-enggak-cukup-bBNMfgaxG9.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

MUNCULNYA  klaster perkantoran semakin mengkhawatirkan belakangan ini. Misalnya saja, sebagian perkantoran di DKI Jakarta terdapat karyawan positif Covid-19

Klaster perkantoran bisa ada karena adanya pegawai dengan kondisi tidak sehat bekerja di kantor, kurangnya sistem jaga jarak, atau salah satu karyawan positif Covid-19 di perjalanan dan menularkan rekan kerjanya.

Akibatnya, salah satu dari mereka yang sudah terpapar dapat menularkan kepada karyawan lain. Jika sudah demikian, sulit mendeteksi siapa saja yang sudah terpapar Covid-19. Terlebih jika mereka tidak menunjukkan gejala atau Orang Tanpa Gejala (OTG).

Salah satu antisipasi yang dapat dilakukan oleh karyawan lainnya ketika menghadapi situasi seperti ini adalah dengan melakukan tes. Seperti diketahui, ada dua jenis tes untuk menguji tubuh dari Covid-19, yakni rapid test dan RT PCR atau yang dikenal dengan swab test.

Baca Juga: Cegah Bertambahnya Klaster Perkantoran, Cukupkah Jaga Jarak dan Cuma Pakai Masker?

rapid test

Umumnya, orang-orang memilih rapid test. Sesuai namanya, rapid test merupakan tes cepat yang hanya memerlukan sampel darah dengan waktu yang cukup singkat.

Namun sayangnya, rapid test dinilai tidak efektif. Dokter Spesialis Paru Agus Dwi Susanto, Sp.P(K) mengatakan, pemeriksaan rapid test ini digunakan untuk mendeteksi antibodi yaitu lgM dan lgG, yang diproduksi tubuh untuk melawan virus corona.

"Jadi gini, kalau ada 1 orang positif Covid-19 di perkantoran, rapid test aja enggak cukup karena tes hasilnya enggak akurat, perlu swab test," ujarnya ketika dihubungi Okezone.

Agus menjelaskan, rapid test memiliki kelemahan, yakni bisa menghasilkan false negative ketika hasil tes tampak negatif meski sebenarnya positif. Ini terjadi jika rapid test dilakukan kurang dari 7 hari setelah terinfeksi.

"Padahal antibodi kan diperiksa belum tentu terbentuk atau bahkan tidak terbentuk sehingga tidak terdeteksi," terangnya.

Jadi bisa saja seseorang terinfeksi hari ini kemudian belum muncul gejala. Karena berdasarkan teori muncul antibodi itu pada hari ke-7 hingga hari ke-10.

"Di antara hari ke 0 hingga ke 7 seseorang terinfeksi tidak akan terdeteksi antibodi, sehingga menjadi false negatif itu kekurangannya," jelas dia.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini