Tak Cuma Baby Blues, Waspadai juga Depresi Usai Melahirkan Moms!

Anabel Lerric, Jurnalis · Sabtu 01 Agustus 2020 10:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 30 481 2254691 tak-cuma-baby-blues-waspadai-juga-depresi-usai-melahirkan-moms-vBKTDJXOjK.jpg Ilustrasi Baby Blues (Foto: Shutterstock)

Depresi dapat saja dialami oleh seorang ibu pasca-melahirkan. Kondisi ini berbeda dengan baby blues.

Baby blues membuat seorang ibu mengalami perasaan khawatir, ketidakbahagiaan, dan keletihan pada minggu-minggu pertama setelah melahirkan. Sekira 80 persen wanita bisa mengalaminya dan biasanya akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari.

Berbeda dengan baby blues, depresi pascapersalinan adalah masalah kesehatan mental yang serius dan dialami oleh 10 hingga 20 persen ibu baru. Masalah ini dapat berlangsung selama beberapa bulan hingga beberapa tahun.

Seperti dilansir dari New York Times, asisten profesor klinis pediatri di Fakultas Kedokteran Icahn, New York bernama Dr. Jen Trachtenberg, MD mengatakan bahwa baby blues adalah kejadian yang normal dan meskipun Anda benar-benar lelah dan mungkin tidak berpikir jernih, namun masih ada kesenangan di sela-sela waktu.

Baby blues 

Baca juga: Hamil Tua, Mesranya Irish Bella dan Ammar Zoni Babymoon ke Resor Mewah Borobudur

Tetapi berbeda dengan depresi pascapersalinan. Menurut psikiater reproduksi di New York, Dr. Carly Snyder, MD, dilansir dari New York Times, depresi pascapersalinan bisa dikatakan ketika seorang Ibu yang baru saja melahirkan menangis setiap hari, ketika ia tidak dapat menemukan kegembiraan dengan bayinya, ketika ia tidak tidur bahkan jika bayi tertidur karena kecemasan yang tak tertahankan, atau ketika ia memiliki pikiran yang mengganggu secara konsisten atau jika ia memiliki pikiran ingin bunuh diri.

Dr. Trachtenberg menambahkan bahwa wanita juga dapat mengembangkan kondisi kesehatan lainnya pascapersalinan, seperti gangguan obsesif-kompulsif atau sindrom stres pascatrauma jika pengalaman saat melahirkan mereka traumatis.

Kecemasan postpartum juga dapat terjadi bersamaan dengan depresi pascapersalinan dan mungkin termasuk gejala-gejala seperti serangan panik, insomnia, ketakutan obsesif tentang kesehatan dan keselamatan bayi, ketidakmampuan untuk duduk diam atau sakit atau ketidaknyamanan fisik, seperti sering sakit kepala atau sakit perut.

Gejala utama depresi pascapersalinan, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC):

1. Merasa sedih, putus asa, kewalahan, bersalah atau marah

2. Sering menangis

3. Merasa mati rasa terhadap bayi Anda, tidak ingin berada di dekat bayi Anda atau khawatir Anda akan melukai bayi Anda

4. Merasa tidak mampu merawat bayi Anda, termasuk merasa bersalah karena tidak "cukup baik"

5. Gejala fisik yang tidak bisa dijelaskan, seperti sakit kepala, mual dan sakit perut

6. Tidak dapat menemukan kesenangan dalam kegiatan apapun atau menarik diri dari orang lain

7. Tidak punya energi dan sulit fokus

8. Mengalami kesulitan dengan tidur, termasuk tidak dapat tertidur

Ibu dan bayi 

Faktor-faktor depresi pascapersalinan:

1. Hidup yang penuh tekanan, termasuk kelahiran yang traumatis

2. Dukungan sosial yang tidak memadai, termasuk menjadi Ibu tunggal atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga

3. Riwayat depresi pribadi atau keluarga

4. Komplikasi kehamilan atau kelahiran, termasuk kelahiran prematur atau perawatan bayi di rumah sakit

5. Menjadi ibu remaja

6. Melahirkan kembar

7. Setelah mengalami kesulitan hamil

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini