Tak Hanya Kantor, Individu Juga Bisa Kena Denda Bila Langgar Protokol Kesehatan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 31 Juli 2020 09:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 31 481 2254924 tak-hanya-kantor-individu-juga-bisa-kena-denda-bila-langgar-protokol-kesehatan-1ijlc9eGlf.jpg Wajib pakai masker (Foto: The Economic Times)

Selain memperpanjang masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga 13 Agustus mendatang, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, pihaknya akan memberikan sanksi keras bagi perusahaan maupun individu yang melanggar protokol kesehatan. Sebab tugas menekan penyebaran virus corona merupakan tugas bersama yang harus dipatuhi semua orang dengan penerapan protokol kesehatan ketat.

Seperti diketahui, dalam satu minggu terakhir ini, masyarakat Indonesia khususnya DKI Jakarta dihebohkan dengan kemunculan klaster-klaster Covid-19 terbaru di kawasan perkantoran. Menanggapi hal tersebut, Anies kembali mengingatkan, bahwa pihaknya tidak melarang kegiatan usaha apapun asal menjalankan protokol kesehatan dengan baik.

 Anies Baswedan

"Saya ingatkan kegiatan usaha apapun, boleh berkegiatan dengan syarat separuh kapasitas, menerapkan protokol kesehatan, serta menerapkan shift secara bergantian jadi ada jeda," ujarnya dalam konferensi pers di kanal YouTube resmi Pemprov DKI Jakarta kemarin.

Baca juga: Kangen Liburan, Pantai Jadi Tujuan Nomor 1 Masyarakat Indonesia

Lebih lanjut Anies menjelaskan, bahwa Pemprov DKI juga akan terus mengetatkan pengawasan kepada setiap usaha dan aktivitas publik di Jakarta. Dalam waktu dekat ini, pihaknya akan mengumumkan secara resmi tentang pemberian denda bagi perusahaan maupun individu yang melanggar protokol kesehatan.

"Kami akan memberikan sanksi berupa denda dan penutupan kegiatan usaha. Kebijakan ini akan diterapkan pada tingkat individu bukan hanya kantor. Pribadi-pribadi yang melanggar berulang kali akan mendapatkan denda yang lebih berat daripada pelanggaran pertama," tegas Anies.

"Ingat, ini bukan sekadar status PSBB, ini adalah wabah yang nyatanya masih ada. Dan testing yang kita lakukan sangat massif, menunjukkan bahwa di Jakarta wabah ini masih ada," timpalnya.

Keputusan tersebut tak terlepas dari fakta di lapangan bahwa angka kasus positif corona di DKI Jakarta masih di atas standar yang telah ditetapkan oleh Organsisasi Kesehatan Dunia (WHO). Positivity rate Jakarta dilaporkan menyentuh 6,5% atau 1,5% lebih tinggi dari standar WHO.

Anies menjelaskan data yang dia sampaikan kali ini dapat dipastikan akurat, karena dalam dua minggu terakhir Pemprov DKI Jakarta telah melakukan upaya yang sangat agresif dengan mengusung 3 prinsip utama. Yakni, testing, tracing, dan treatment.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini