Fakta Menarik: Protokol Kesehatan Covid-19 Sudah Diterapkan Sejak Flu Spanyol 1918

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 02 Agustus 2020 19:44 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 02 481 2255776 fakta-menarik-protokol-kesehatan-covid-19-sudah-diterapkan-sejak-flu-spanyol-1918-LrfOXROG8E.jpg Ilustrasi. (Freepik)

INDONESIA masih berjuang melawan pandemi Covid-19. Per Minggu (2/8/2020), BNPB telah mencatat bahwa kasus positif di Indonesia telah menembus angka 111.455 kasus.

Namun di tengah pandemi Covid-19 saat ini, para ahli kesehatan dilaporkan masih terus berupaya menciptakan vaksin corona, sembari menggali lebih dalam lagi informasi seputar virus tersebut. Ada satu informasi menarik yang disampaikan oleh Sejarawan Universitas Indonesia Dr. Tri Wahyuning M. Irsyam, MSi.

Dia mengatakan bahwa pandemi Covid-19 yang sedang melanda Indonesia dan sebagian besar negara di dunia, sejatinya tak jauh berbeda dengan Flu Spanyol pada 1918 silam.

Baca Juga: Ada Karyawan Positif Covid-19 di Kantormu, Tracing Rapid Test Aja Enggak Cukup!

Pemerintah Hindia Belanda atau Indonesia pada saat itu juga memberikan himbauan kepada masyarakat agar patuh terhadap protokol kesehatan, meliputi memakai masker, tinggal di rumah dan menjaga kebersihan, layaknya yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk penanganan pandemi Covid-19 saat ini.

covid

Dalam menyampaikan imbauan itu, Pemerintah Hindia Belanda melakukannya melalui berbagai upaya, antara lain melalui kampanye mobil kesehatan. Menurut Tri, hal tersebut lebih efektif dilakukan mengingat masih banyak keterbatasan pada saat itu.

“Secara rutin, mobil kesehatan berkeliling kota untuk mengingatkan bahwa penyakit tersebut berbahaya dan bisa mematikan. Jadi lebih baik kalau tidak perlu tinggal di rumah, tetap memakai masker, dan juga tetap jaga kebersihan. Itu yang disampaikan terus dan terus dan terus,” jelas Tri di Media Center Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Minggu (2/8/2020).

Selain melalui kampanye tersebut, Pemerintah Hindia Belanda juga menerbitkan buku literasi berjudul “Lelara Influenza” (Penyakit Influenza), yang kemudian dialihbahasakan ke dalam cerita pewayangan oleh dalang.

Sejarawan Publik Kresno Brahmantyo mengatakan, buku “Lelara Influenza” cukup populer, meski pada saat itu masyarakat belum banyak yang dapat membaca.

“Ada data yang menunjukkan bahwa tingkat peminjaman buku itu pada tahun 20 sampai 23 itu cukup signifikan. Tinggi, 3.000,” ujarnya.

Dalam buku terbitan Balai Pustaka tersebut dijelaskan tentang influenza mulai dari gejala dan penanganannya. Beberapa kalimatnya juga menekankan tentang imbauan agar manusia tidak bertindak ceroboh.

"Berhati-hatilah jangan sampai bertindak ceroboh yang bisa mengakibatkan munculnya debu. Orang yang terkena panas dan batuk tidak boleh keluar rumah. Harus tidur atau istirahat saja. Badannya diselimuti sampai rapat, kepalanya dikompres, tidak boleh mandi,” jelas Kresno.

Dalam hal ini, pemahanan serta literasi masyarakat akan bahaya pandemi sangat penting dan diutamakan. Sebab, hal itu akan memengaruhi adanya perubahan perilaku masyarakat sehingga upaya penanganan akan lebih mudah dilakukan.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini