Tahukah Kamu? Ternyata Ada Persamaan Situasi Pagebluk Covid-19 dan Flu Spanyol 1918!

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 02 Agustus 2020 22:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 02 481 2255822 tahukah-kamu-ternyata-ada-persamaan-situasi-pagebluk-covid-19-dan-flu-spanyol-1918-pC6QP1OGsa.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

INDONESIA tengah menghadapi masa-masa sulit yang disebabkan pandemi Covid-19. Dampak dari pandemi atau pagebluk ini memang tidak main-main. Banyak pekerja yang dirumahkan lantaran perusahaan tempat mereka bekerja terpaksa gulung tikar.

Ya, roda ekonomi sempat berhenti berputar sejak kemunculan wabah virus yang berawal dari Wuhan, China itu. Ironisnya, meski pemerintah telah melakukan berbagai upaya guna mencegah penyebaran Covid-19, masih ada saja masyarakat yang tidak mengindahkannya.

Bila menilik sejarah, kondisi seperti ini sebetulnya sudah pernah dialami oleh negara kita pada saat pagebluk Flu Spanyol menyerang Tanah Air tahun 1918 silam. Kala itu juga sempat terjadi perbedaan persepsi antara pemerintah dengan masyarakat dalam menyelesaikan isu kesehatan tersebut.

Baca Juga: Fakta Menarik: Protokol Kesehatan Covid-19 Sudah Diterapkan Sejak Flu Spanyol 1918

corona

Sejarawan Universitas Indonesia, Dr. Tri Wahyuning M. Irsyam, MSi menyampaikan bahwa rata-rata masyarakat pada saat itu, berkeyakinan bahwa wabah yang melanda berasal dari alam. Padahal, pemerintah sudah berusaha meyakinkan mereka pagebluk itu berasal dari adanya transmisi dari pendatang.

“Mereka masyarakat melihat, bahwa sumber penyakit ini adalah dari alam. Dari debu, dari angin, dan sebagainya. Sementara pemerintah melihatnya, pihak pemerintah Belanda dalam hal ini ini adalah dari luar. Pendatang yang datang ke Indonesia itu membawa, atau carrier,” ungkap Tri seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Minggu (2/8/2020).

Adanya perbedaan pendapat yang membuat penanganan penyakit justru menjadi lambat tersebut kemudian juga memantik kepedulian para tokoh nasional yang akhirnya bergerak untuk perubahan, salah satunya adalah dr. Cipto Mangunkusumo dengan para siswa STOVIA dan munculnya mantri-mantri kesehatan.

Melalui gerakannya, imbauan penerapan protokol kesehatan digalakkan. Selain itu, tercetuslah beberapa upaya lain misal: pemanfaatan ramuan jamu tradisional untuk penanganan penyakit. Kemudian pelabuhan sebagai pintu masuk Hindia Belanda harus ditutup sementara dan dibatasi pergerakannya.

Beberapa rumah penyintas diberi tanda bendera kuning, dengan tujuan untuk mencegah adanya masyarakat yang datang dan berpotensi tertular dan beberapa langkah lain yang juga menimbulkan pro dan kontra.

Apabila kembali melihat pada literasi sejarah pagebluk Flu Spanyol 1918, Tri mengatakan bahwa masyarakat dan Pemerintah Hindia Belanda atau Indonesia pada saat itu memang belum benar-benar siap.

Segala informasi mengenai pagebluk yang masuk ke Hindia Belanda pada saat itu menjadi sempat tidak terlalu dihiraukan bahkan sampai akhirnya memicu perbedaan pendapat antara pemerintah dengan masyarakatnya.

Satu pelajaran penting yang kemudian dapat dipetik dari pandemi seabad silam menurut Tri adalah bahwa belajar dari literasi masa lalu menjadi penting untuk menangani masalah yang tidak jauh beda di masa sekarang maupun di kemudian hari. Dalam hal ini, penyamaan persepsi dan pemahaman menjadi kunci agar pandemi dapat lebih mudah ditangani.

“Masalah lalu itu bukan hanya untuk masa lalu, tapi juga untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Jadi marilah kita melangkah dengan kearifan masa lalu,” kata Tri.

Sejalan dengan Tri, Sejarawan Publik Kresno Brahmantyo juga menganggap bahwa catatan atau rekaman kelam mengenai pagebluk hendaknya dapat dijadikan sebagai pembelajaran, baik untuk masa sekarang maupun yang akan datang. Sebab menurut Tri, setiap peristiwa atau bencana dapat berulang dan tentunya dibutuhkan solusi penanganan yang sama untuk ke depannya.

“Mari, mulailah kita membuat rekaman walaupun agak telat. Tapi itu bisa dilakukan, supaya nanti ketika 10 atau 20 tahun yang akan datang kita punya data untuk menghadapi ini semua. Karena ini berulang, dan kelihatannya solusinya sama juga,” pungkas Kresno.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini