Orangtua Pendek Tidak Otomatis akan Miliki Anak Stunting, Ini Penjelasannya

Senin 03 Agustus 2020 15:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 03 481 2256197 orangtua-pendek-tidak-otomatis-akan-miliki-anak-pendek-ini-penjelasannya-WCe8PCU8O3.jpg Anak stunting (Foto: The Global Alliance for Improved Nutrition)

Ternyata sebanyak 70% kasus stunting disebabkan oleh hal-hal di luar kesehatan dan gizi antara lain sanitasi, lingkungan, dan perilaku manusia. Sedangkan 30% permasalahan stunting disebabkan oleh perilaku yang salah.

Perilaku masyarakat yang bisa memicu terjadinya stunting. Antara lain perilaku yang kurang baik dalam pola hidup, pola makan, dan pola pengasuhan anak.

 mengasuh anak

“Orangtua yang pendek tidak otomatis akan memiliki anak pendek. Anak bisa menjadi pendek karena orangtua menerapkan pola asuh dan pola makan seperti yang diterimanya dulu. Lingkaran ini harus diputus,” kata Widodo Suhartoyo, Senior Technical and Liasion Adviser Early Childhood Education belum lama ini.

“Di Hulu Sungai Utara misalnya, daerah yang kaya ikan. Tapi, anak-anak di sana tidak banyak makan ikan, ikan lebih banyak dijual ke luar. Setelah diteliti, ikan biasanya hanya dibakar atau digoreng. Maka salah satu rekomendasinya, membuat resep masakan ikan sehingga anak-anak tidak bosan makan ikan,” papar Widodo.

Diakui Pakar Nutrisi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, banyak perilaku selama 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) yang meningkatkan kerentanan terjadinya stunting. Misalnya ibu hamil yang tidak paham soal stunting, dan tak meyakini bahwa stunting bisa terjadi akibat pola makan yang salah sehingga tidak melakukan pencegahan sejak awal. Sebagian ibu hamil tidak memperbaiki pola makannya.

“Sebagian lain menganggap bahwa makan saat hamil diperuntukkan bagi dua orang. Akibatnya, hanya porsi nasi yang ditambah agar kenyang. Belum lagi mitos untuk menghindari daging merah, makanan laut, dan kacang-kacangan, yang akhirnya membuat ibu hamil kekurangan protein,” paparnya.

Stunting berkembang selama 1.000 HPK. Kondisi saat hamil akan memengaruhi kondisi saat ibu melahirkan nanti, yang akan memengaruhi kondisi bayi usia 0-6 bulan, 7-11 bulan, lalu 12-24 bulan.

Seperti dilansir dari Sindo News, Rita menyayangkan, usai melahirkan banyak ibu yang tidak melakukan IMD (inisiasi menyusui dini). Ada pula yang melakukan, tapi caranya salah. Bayi hanya diletakkan di area puting susu ibu, dan dianggap selesai.

 Baca juga: Tak Cuma Keriput, Ini 5 Tanda jika Usia Semakin Menua

“Padahal yang kita inginkan, bayi bergerak sendiri dari perut ibu untuk mencari puting susu ibu,” terang Rita.

Hambatan lain, ada persepsi bahwa ibu melahirkan pasti capek sehingga bayi pisah kamar dengan ibu agar ibu bisa beristirahat. Saat bayi berusia 0-6 bulan, tantangannya berbeda lagi. Masih banyak ibu yang tidak memberikan kolostrum atau ASI pertama. “Karena berwarna kuning sehingga dianggap kotor, lalu dibuang," ujar Rita.

Sebagian ibu masih menganggap ASI adalah minuman dan bukan makanan, sehingga bayi harus diberi makanan lain agar kenyang. Rita mengingatkan, kondisi ibu hamil mulai terbentuk jauh sebelumnya, yakni ketika remaja. Kualitas gizi remaja bakal menentukan kualitas saat hamil kelak.

Namun, masih banyak permasalahan gizi remaja yang belum teratasi. Misalnya anemia dan kurang energi kronis (KEK). Ditambah lagi kondisi sekarang, di mana remaja sangat akrab dengan konsumsi GGL (gula, garam, lemak) yang berlebihan, serta pola hidup sedenter.

Buku yang diterbitkan World Bank berjudul "Aiming High: Indonesia’s Ambitions to Reduce Stunting" memaparkan, bila tidak bertindak, hingga tahun 2022 kita masih akan berkutat dengan angka stunting di kisaran 28%. Namun, dengan strategi yang baik, angka stunting bisa ditekan hingga <22% pada 2022. Perlu upaya keras agar target pemerintah menurunkan angka stunting <20% pada 2024 bisa tercapai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini