Curhat Wanita Karier yang Harus Tinggalkan Anaknya Belajar Online Sendirian

Wilda Fajriah, Jurnalis · Kamis 06 Agustus 2020 17:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 06 196 2257929 curhat-wanita-karier-yang-harus-tinggalkan-anaknya-belajar-online-sendirian-FybVsGeAcb.jpg Ilustrasi. (Freepik)

BEKERJA sebagai regional director yang dituntut melakukan banyak perjalanan dinas tentu tak banyak memiliki waktu di rumah. Hal itulah yang dirasakan oleh Elisabeth Maria.

Di tengah pandemi, anak semata wayangnya yang berusia 9 tahun terpaksa harus belajar secara daring tanpa didampingi sang ibu. Meski baru duduk di bangku kelas 4 SD, menurut pengakuan sang ibu, ia cukup bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

Sebagai seorang ibu, wanita yang biasa dipanggil Ibet ini merasa bersalah karena tidak bisa mendampingi anak satu-satunya itu pada pagi hari untuk belajar.

Baca Juga: Duh, Mau Bobok Aja Aurel Hermansyah Cantik Pakai Piyama Pink

belajar

"Jadi saya bangun jam 05.30, saya masak, dan bangunin anak saya jam 06.30. Lalu saya bilang ke dia, 'nak mama berangkat jam 07.00 ya, belajar yang baik, nanti kalau mama pulang kita bahas pelajaran sama-sama," tutur Ibet pada EF Parents The Rise of Digital Parenting, Kamis (6/8/2020).

Ia melanjutkan, ketika waktu istirahat, sang anak juga sering mengirimi pesan teks mengenai materi yang dipelajarinya pada hari itu. Sang anak juga cukup interaktif untuk melaporkan jika ada PR yang harus dikerjakan.

Ia melanjutkan, ketika waktu istirahat, sang anak juga sering mengirimi pesan teks mengenai materi yang dipelajarinya pada hari itu. Sang anak juga cukup interaktif untuk melaporkan jika ada PR yang harus dikerjakan.
Sebagai tanda untuk menebus rasa bersalahnya, lanjut Ibet, ia selalu berusaha untuk meluangkan waktu di malam hari dan membimbing anaknya mengerjakan PR.
"Saya pastikan PR itu saya kerjakan bareng sama dia. Kalau saya tidak bisa, saya akan cari bapaknya. Pokoknya harus ada yang mendampingi," ujar Ibet.
Meski hal tersebut tidak dapat menepis rasa bersalah seorang ibu yang tidak bisa menemani dan membimbing anaknya, setidaknya ia tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada si anak.
"Walaupun itu tidak bisa menebus rasa bersalah saya sebagai seorang ibu, tetapi paling enggak kita mencoba yang terbaik yang bisa kita lakukan," pungkasnya.

Ia melanjutkan, ketika waktu istirahat, sang anak juga sering mengirimi pesan teks mengenai materi yang dipelajarinya pada hari itu. Sang anak juga cukup interaktif untuk melaporkan jika ada PR yang harus dikerjakan.

Sebagai tanda untuk menebus rasa bersalahnya, lanjut Ibet, ia selalu berusaha untuk meluangkan waktu di malam hari dan membimbing anaknya mengerjakan PR.

"Saya pastikan PR itu saya kerjakan bareng sama dia. Kalau saya tidak bisa, saya akan cari bapaknya. Pokoknya harus ada yang mendampingi," ujar Ibet.

Meski hal tersebut tidak dapat menepis rasa bersalah seorang ibu yang tidak bisa menemani dan membimbing anaknya, setidaknya ia tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada si anak.

"Walaupun itu tidak bisa menebus rasa bersalah saya sebagai seorang ibu, tetapi paling enggak kita mencoba yang terbaik yang bisa kita lakukan," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini