Share

Jeritan Pilu Zarka, Kehilangan Hidung Akibat Kena KDRT Suaminya

Jum'at 07 Agustus 2020 20:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 07 612 2258761 jeritan-pilu-zarka-kehilangan-hidung-akibat-kena-kdrt-suaminya-9a0TeXNUPg.jpg Zarka kehilangan hidung (Foto: BBC)

Di tengah pandemi Covid-19 disebutkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) semakin meningkat. Kebanyakan pelaku merupakan orang terdekat korban. Salah satu korbannya bernama Zarka.

 Usai melalui 10 minggu dalam penderitaan, Zarka akhirnya melihat secercah harapan. "Saya senang. Hidung saya kembali... Bagus. Sangat bagus," ia berkata kepada dokter ketika mereka mengganti pakaiannya seusai operasi untuk merekonstruksi wajahnya.

Zarka bisa dengan jelas melihat hidung barunya ditutupi jahitan dan gumpalan darah di depan cermin.

 korban KDRT

KDRT terhadap perempuan sangat umum di Afganistan. Satu survei nasional yang dikutip Dana Penduduk PBB mengatakan 87% perempuan Afghanistan mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan fisik, seksual, atau psikologis.

Dalam kasus terburuk, suami atau saudara laki-laki menyerang perempuan dengan cairan asam atau pisau.

Seperti yang dialami Zarka, dalam kekerasan terakhir yang ia alami, suami Zarka memotong hidungnya dengan pisau lipat.

"Suami saya curiga pada semua orang," kata Zarka. Tuduhan terhadapnya biasanya diikuti dengan pemukulan, yang menjadi ritual sehari-hari.

"Ia sebut saya orang tak bermoral. Saya bilang itu tidak benar," ujarnya. Zarka telah menikah selama sepuluh tahun dan memiliki seorang anak berusia enam tahun.

Perempuan berusia 28 tahun itu sudah terbiasa dipukuli suaminya, tapi ia tak pernah menyangka akan menjadi separah ini.

"Ketika saya melihat diri saya sendiri di cermin hari ini, hidung saya sudah sembuh banyak," kata Zarka.

Dr Zalmai Khan Ahmadzai melakukan operasi rekonstruksi hidung Zarka dengan cuma-cuma. Zarka dibius selama prosedur operasi yang berlangsung tiga jam itu.

"Sebelum operasi ia tidak kelihatan bagus, ujarnya.

Dr. Zalmai Khan Ahmadzai, salah satu dari sedikit dokter bedah yang mampu melakukan rekonstruksi wajah di negara yang dilanda perang itu. Ia kagum dengan kemajuan pasiennya.

"Ketika Zarka datang kepada saya, kondisinya sangat buruk. Hidungnya terinfeksi parah," terang Dr. Zalmai.

Setelah memeriksa Zarka pada 15 Juni, ia memberi perempuan itu antiseptik dan pil anti-inflamasi. Ia mendapati Zarka menderita anemia parah dan meresepkan tablet multivitamin.

Setelah sekitar lima minggu, Zarka kembali ke Kabul dan menjalani operasi pada 21 Juli.

Usai mendapatkan kekerasan fatal, Zarka berpikir tak ingin kembali lagi kepada suaminya yang jahat dan kejam tersebut.

"Saya ingin bebas darinya. Saya tidak mau tinggal dengan suami saya lagi. Saya pikir ketika saya bercerai ia tidak akan memberikan putra saya kepada saya. Namun saya yakin, ini hanya kekhawatiran saya," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini