Rusia Klaim Temukan Vaksin Pertama untuk Tangani Covid-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 11 Agustus 2020 21:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 11 481 2260690 rusia-klaim-temukan-vaksin-pertama-untuk-tangani-covid-19-w0w0LA37Hb.jpg Ilustrasi. (Freepik)

RUSIA telah mengumumkan vaksin pertama di dunia untuk menangani virus corona Covid-19. Meski demikian banyak yang khawatir bahwa kemungkinan Rusia belum sepenuhnya menguji produknya.

Vaksin ini diproduksi oleh Institut Gamaleya Moskow setelah uji coba yang dipersingkat. Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin mengklaim pengujian telah menunjukkan bahwa produk tersebut aman, bekerja secara efektif, dan akan membentuk kekebalan jangka panjang.

“Salah satu putri saya yang melakukan inokulasi sendiri. Setelah suntikan pertama, suhunya naik menjadi 38 derajat Celcius, tapi keesokan harinya hanya sedikit di atas 37 derajat Celcius,” terang Putin, sebagaimana dilansir Independent, Selasa (11/8/2020).

Baca Juga: Potret Cantik Nia Ramadhani Liburan di Pantai, Mama Muda Penuh Pesona!

 vaksin

Menurut Wakil Perdana Menteri Rusia, Tatyana Golikova, negara berjuluk Beruang Merah itu berencana untuk mulai menginokulasi staf medis pada Agustus 2020 dengan vaksinasi massal di mulai awal tahun depan.

Menteri Kesehatan Rusia, Mikhail Murashko mengatakan dua suntikan akan memberikan kekebalan tubuh hingga dua tahun. Rusia telah berlomba untuk menyetujui vaksin pertama di dunia, dengan bantuan Kepala Dana Kekayaan Kedaulatan Negara, Kirill Dmitriev.

Ia menyamakan proses pencarian vaksin virus corona dengan peluncuran satelit pertama di dunia oleh Soviet pada 1957. Rusia adalah satu dari dua lusin negara yang terlibat dalam uji coba vaksin. Pada Juli lalu, Inggris menuduh Rusia meretas data dari uji coba lanjutan di Universitas Oxford hingga menimbulkan kekhawatiran di Moskow.

 

Vaksin Rusia menggunakan jenis adenovirus yang diadaptasi. Adenovirus adalah virus yang biasanya menyebabkan flu biasa. Tetapi para peneliti gagal menghasilkan bukti keamanan atau kemanjuran dari vaksin tersebut. Pengujian dilakukan pada tentara dan mahasiswa kedokteran, dengan persetujuan peraturan.

Persetujuan tersebut tiba beberapa bulan sebelum penyelesaian uji klinis yang dijadwalkan. Kecepatan dan kurangnya transparansi telah memicu kekhawatiran bahwa geopolitik mungkin telah diprioritaskan dengan mengorbankan sains.

Seorang Ahli Epidemiologi di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, Mikhail Favorov yang menjabat di dewan di Institut Gamaleya antara 1989-90 mengatakan bahwa mantan koleganya mungkin bersalah karena mengambil jalan pintas untuk mengirimkan barang.

Favorov menulis di postingan media sosial, bahwa ia meminta data tentang vaksin adenovirus tanpa hasil.

“Saya berharap dengan sepenuh hati bahwa vaksin ini akan melindungi dan aman. Kami akan segera tahu jika yang divaksinasi tidak sakit dengan Covid-19, itu bagus. Jika mereka sakit, kita akan tahu itu tidak berhasil, dan itu buruk,” ucapnya.

Pada sidang kongres Juli 2020, Anthony Fauci, pria yang memimpin upaya tanggapan virus korona AS juga memperingatkan tentang bahaya vaksin yang belum teruji.

“Saya berharap China dan Rusia benar-benar menguji vaksin sebelum mereka memberikan vaksin kepada siapa pun. Klaim memiliki vaksin yang siap didistribusikan sebelum Anda melakukan pengujian paling tidak bermasalah,” terang Fauci.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini