Risiko Perkawinan Anak-Anak, si Ibu Muda Alami Menopause Dini

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 19 Agustus 2020 11:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 19 196 2264318 risiko-perkawinan-anak-anak-si-ibu-muda-alami-menopause-dini-jcIzzddAGs.jpg Ibu remaja (Foto: The List)

Perkawinan anak masih ditemukan di Indonesia. Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2018 BPS, tercatat angka perkawinan anak di Indonesia mencapai 1,2 juta kejadian.

Dari jumlah tersebut, proporsi perempuan umur 20-24 tahun yang berstatus kawin sebelum umur 18 tahun sebanyak 11,21 persen dari total jumlah anak. Ini berarti sekitar 1 dari 9 perempuan usia 20-24 tahun menikah di usia anak.

 remaja masih saatnya belajar dan bermain

Jumlah tersebut berbanding kontras dengan laki-laki yang mana diketahui bahwa 1 dari 100 laki-laki berusia 20-24 tahun menikah saat usia anak.

Diterangkan Menteri PPPA Bintang Puspayoga, perkawinan anak berdampak masif di antaranya meningkatnya resiko putus sekolah, pendapatan rendah, kesehatan fisik akibat anak perempuan belum siap hamil dan melahirkan, dan ketidaksiapan mental membangun rumah tangga yang memicu kekerasan, pola asuh tidak benar, hingga perceraian. Itu sebabnya perkawinan anak merupakan pelanggaran hak asasi manusia.

 Baca juga: 5 Ciri Orang yang Emotionally Unavailable, Tidak Cocok Dijadikan Pasangan

"Praktik perkawinan anak merupakan pelanggaran atas hak-hak anak yang berdampak buruk terhadap tumbuh kembang dan kehidupannya di masa yang akan datang," terangnya dalam pernyataan tertulis di laman resmi KemenPPPA.

Dengan begitu, perkawinan anak dikatakan juga sebagai pelanggaran HAM karena hak anak adalah bagian dari HAM. Bintang pun mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar memutus perkawinan anak adalah karena perkawinan anak sangat lekat dengan aspek tradisi, budaya, dan masalah ekonomi.

"Dengan diterbitkannya dokumen Stranas PPA, kami berharap semua pemangku kepentingan di berbagai sektor dapat meningkatkan komitmen masing-masing dalam mendukung upaya pencegahan perkawinan anak," ungkapnya.

Membahas persoalan perkawinan anak tidak akan jauh-jauh juga dari risiko kesehatan yang akan dialami pelaku. Bahkan, risiko ini akan menghantui dia seumur hidupnya, karena berkaitan dengan kualitas kesehatan tubuh.

Seperti yang diterangkan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Hasto Wardoyo, ada dua risiko nyata perkawinan anak. Pertama menyoal tumbuh kembang tulang tidak akan maksimal, dan risiko kedua adalah menopause dini.

"Remaja perempuan berusia 15 tahun diberi tahu bahwa dia itu tulangnya masih bertambah panjang dan padat, nah kalau nikah dan hamil, tulangnya bakal diambil si bayi. Alhasil tulang si ibu muda bakal kropos, tulang jadi pendek," paparnya di Webinar 'Keluargaku, Indonesiaku', belum lama ini.

Hasto menambahkan, risiko lainnya adalah si ibu muda bakal menopause dini dan berakibat pada tulang punggung bengkok lebih awal. Kondisi ini bisa terjadi di usia 50 tahun jika si anak menikah pada usia 15, 16, atau 17 tahun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini