Pandemi Covid-19, Makin Banyak Orang Beralih dari Konsumsi Daging

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 19 Agustus 2020 17:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 19 298 2264599 pandemi-covid-19-makin-banyak-orang-beralih-dari-konsumsi-daging-OcGfCQKAUZ.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

ADA fakta menarik terhadap pola makan seseorang selama pandemi Covid-19. Saat ini ada temuan bahwa kebiasaan konsumsi daging mengalami penurunan terbesar dalam 9 tahun terakhir.

Berdasarkan studi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), konsumsi daging per-kapita pada 2020 diperkirakan menurun ke titik paling rendah dalam 9 tahun terakhir. Penurunan sebesar 3 persen dari 2019, serta memperlihatkan penurunan terbesar sejak tahun 2000.

Baca Juga: 5 Koleksi Foto Cantik Hana Hanifah, Uh Body-nya bak Gitar Spanyol

daging

Badan organisasi PBB melaporkan kombinasi Covid-19 akibat kesulitan ekonomi, tantangan logistik, seperti adanya pembatasan transportasi dan penurunan tajam permintaan dari restoran, hingga kurangnya tenaga kerja yang mengepak daging. Hal ini menyebabkan penurunan permintaan secara global.

Pola konsumsi daging menurun bukan saja di Indonesia, tapi juga di beberapa negara lain, seperti Amerika Serikat. Sebaliknya, ermintaan untuk produk berbasis nabati meningkat sampai dengan 53 persen.

Dijelaskan Influencer Sosial Media Annabella Jusuf, selama pandemi Covid-19, seseorang banyak yang berpikir ulang untuk mengubah pola makannya. Dengan permintaan daging yang menurun, di sisi lain pasar berbasis nabati meningkat.

"Hal tersebut berarti kita bersama-sama mengukir perubahan nyata dalam sistem pangan kita," ucap wanita yang juga menjadi co-creator Tantangan 21 Hari Vegan di Indonesia.

 daging

Dijelaskan lebih lanjut, menurut badan PBB, 75 persen patogen yang muncul di beberapa puluh tahun terakhir berasal dari hewan, waduk, dan irigasi serta industri peternakan berkaitan terhadap 25 persen penyakit menular di manusia. Badan PBB tersebut juga menekankan hubungan antara virus dan konsumsi daging.

Menurut Program Lingkungan PBB, hewan seperti sapi, babi, dan ayam dapat menyebarkan penyakit. Karena mayoritas saat ini dibesarkan dalam kondisi yang kurang dari ideal.

Intensifikasi industri peternakan juga menyebabkan deforestasi, perubahan iklim, hilangnya keragaman hayati dan membuat hewan bisa membawa penyakit dengan manusia. Semuanya merupakan faktor penyebab penyebaran penyakit baru yang dapat menyebabkan adanya pandemi di masa depan.

“Dalam konteks ini, bertumbuhlah konsensus terhadap ide dalam masyarakat kita bahwa kita harus tidak terlalu bergantung pada produk hewani untuk kita agar memiliki masa depan yang lebih aman," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini