Kepala BKKBN Sindir Calon Pengantin 'Jor-joran' Prewedding, Alasannya?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 19 Agustus 2020 19:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 19 481 2264670 kepala-bkkbn-sindir-calon-pengantin-jor-joran-prewedding-alasannya-FubFsBquZL.jpg Ilustrasi (Foto : Nbcnews)

Angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2019, angka stunting mencapai 30,8 persen. Padahal, target Badan Kesehatan Dunia, angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.

Presiden Joko Widodo sendiri pun mengharapkan tercapainya target penurunan angka stunting yang luar biasa yaitu 14 persen pada 2024. Pekerjaan rumah yang cukup besar untuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) si punya hajat.

Meski begitu, upaya menekan angka stunting terus dilakukan. Tak hanya dikerjakan BKKBN, tetapi juga kementerian lain yang terlibat, misalnya Kementerian Kesehatan. Upanya nyata yang selalu dikerjakan adalah memastikan 1000 hari kelahiran berjalan optimal.

"Kita tahu bersama bahwa 1000 hari kelahiran pertama adalah kesempatan luar biasa untuk mengubah status dari stunting ke bukan stunting," terang Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam Webinar 'Keluargaku, Indonesiaku', Selasa 18 Agustus 2020.

Pernikahan

Hasto melanjutkan menjadi sangat penting bagi calon orangtua untuk merencanakan kehamilan. Sebab, ketika 'step' tersebut diabaikan, maka kualitas bayi yang dikandung tidak akan baik.

Baca Juga : Cantiknya Luna Maya Pakai Gaun Transparan, Bikin Netizen Mau Pingsan!

Berkaitan dengan hal tersebut, Hasto menyentil para calon pengantin yang hanya berfokus pada perayaan pernikahan itu sendiri, misalnya mempersiapkan dengan sangat baik prewedding, tapi lupa bagaimana menjadi orangtua yang baik untuk calon anaknya kelak.

"Ngadain Prewedding bisa sampe habis Rp20-30 juta, tapi asam folat yang harganya hanya Rp10 ribu tidak dibeli, zink yang fungsinya untuk memperbaiki sperma dengan harga Rp15 ribu tidak dibeli. Terus, periksa lab paling mahal Rp1 juta pun tidak dikerjakan," sentil Hasto.

Fenomena seperti itu ternyata berkaitan erat pada kasus ibu hamil dengan anemia yang kemudian kualitas bayi yang dikandungnya rendah. Lalu, persiapan pernikahan yang tidak baik pun menjadi sumber dari kasus pernikahan dini karena pernikahan tidak terencana dengan baik.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini