Apakah Sekolah Daring Bikin Anak Jadi Anti-Sosial?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 23 Agustus 2020 08:18 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 23 196 2265996 apakah-sekolah-daring-bikin-anak-jadi-anti-sosial-LKTJ8sh2AC.jpg Sekolah daring (Foto: Freepik)

Pandemi virus corona atau Covid-19, membawa dampak yang cukup besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Salah satunya perubahan konsep belajar mengajar.

Pemerintah terpaksa menerapkan aktivitas belajar online demi mencegah penularan Covid-19 di lingkungan sekolah. Kegiatan belajar online ini sebetulnya sempat menimbulkan perdebatan di kalangan orang tua karena sejumlah alasan.

 sekolah daring

Pertama, meski belajar online dinilai aman meminimalisir penularan virus, namun tak semua orangtua yang mampu memberikan fasilitas gadget kepada anak-anaknya. Buktinya, sudah banyak kasus pencurian handphone yang dilakukan oleh sejumlah oknum dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan sekolah online.

Kedua, sebagian orangtua mengkhawatirkan bahwa sekolah online dapat membuat sang anak menjadi anti-sosial dan kuper (kurang pergaulan). Pasalnya, konsep belajar ini tidak mendorong anak-anak untuk berinteraksi langsung dengan guru maupun teman-temannya. Benarkah demikian?

Menanggapi permasalahan tersebut, Psikolog Meity Arianty mengatakan terlalu dini menyimpulkan bahwa sekolah online memicu perilaku anti-sosial.

"Banyak faktor yang memengaruhi munculnya perilaku anti-sosial, tidak bertemu dengan orang lain dan hanya mengurung diri di rumah hanya salah satu faktor. Ada banyak faktor lain lagi," kata Mei saat dihubungi Okezone via sambungan telefon, Minggu (22/8/2020).

 Baca juga: Pariwisata Raja Ampat Kembali Dibuka, Wisatawan Wajib Registrasi Online

Kendati demikian, Mei tidak menampik sekolah online bila dilakukan dalam jangka waktu yang lama akan membuat psikologis anak-anak terganggu. Pasalnya, mereka juga perlu bersosialisai dengan teman-teman sebayanya.

"Harus dipahami bahwa hubungan itu dapat terjalin dengan adanya pertemuan, dalam arti bertemu dan berinteraksi secara langsung, tidak bisa dilakukan dengan online," tegasnya.

Namun mengingat hingga saat ini vaksin corona belum ditemukan, Mei meminta pemerintah mencari solusi agar anak-anak bisa kembali ke sekolah. Tentu dengan cara yang sudah dipikirkan secara matang.

Dikhawatirkan bila sekolah online ini dilakukan secara terus menerus, maka akan mempengaruhi psikologis sang anak, karena kegiatan tersebut dia menilai sangat tidak efektif.

"Sebenarnya bisa dibuat kelompok kecil atau sekolah bergiliran setiap kelas jika ruangan tidak memungkinkan. Walau hanya 3 atau 4 jam misal dari jam 8 sampai jam 12 siang akan sangat membantu anak-anak kembali menemukan hak mereka untuk berada di sekolah," kata Mei.

"Jangan lupa anak-anak ke sekolah bukan hanya tempat belajar dan mendapatkan ilmu namun mereka juga berinteraksi, menjalin kedekatan sebagai makhluk sosial, belajar aturan di mana mungkin di rumah sulit dilakukan jika orang tua tidak dapat mengontrol karena sibuk bekerja dan banyak lagi hal yang diperoleh anak-anak di sekolah yang tidak bisa digantikan di rumah," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini