Meski di Tengah Pandemi, Pasien Kanker Wajib Komunikasikan Penyakitnya ke Dokter

Jum'at 28 Agustus 2020 10:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 28 481 2268786 meski-di-tengah-pandemi-pasien-kanker-wajib-komunikasikan-penyakitnya-ke-dokter-7Vgh3gvW2k.jpg Penderita kanker berkomunikasi dengan dokter (Foto: Moffitt Cancer Center)

Kanker paru masih menjadi salah satu momok yang ditakuti di Indonesia. Apalagi pengobatan kanker masih sulit.

Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr. Erlang Samoedro, Sp.P mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan prevalensi rokok yang tinggi. Sementara rokok sangat erat kaitannya dengan kejadian kanker paru sehingga untuk menekan prevalensi kanker paru di Indonesia perlu pengendalian dan penurunan prevalensi rokok serta pengendalian polusi udara.

Saat ini pengobatan kanker paru di Indonesia telah tersedia dalam beberapa pilihan pengobatan seperti operasi, kemoterapi, terapi radiasi, terapi target, dan yang paling terbaru ialah imunoterapi. Standar pengobatan kanker di Indonesia sudah maju dan setara dengan standar pengobatan internasional.

 penderita kanker

"Di masa pandemi seperti sekarang, penanganan pasien kanker dilengkapi protokol kesehatan dan keselamatan yang ketat, terutama di rumah sakit. Kami para ahli medis berharap, meskipun kondisi pandemi, pasien tetap mengkomunikasikan penyakitnya dan berkonsultasi kepada kami untuk menentukan jadwal pengobatan demi menghindari komplikasi lebih lanjut," ujar Dr. Erlang belum lama ini.

Wakil Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PDPI Dr. Sita Laksmi Andarini, PhD, Sp.P(K) menambahkan, terapi kanker paru bisa berupa pembedahan, kemoterapi, terapi target, dan imunoterapi. Seluruh terapi tersebut sudah ada di Indonesia dengan mengikuti panduan tata laksana kanker paru dan PDPI yang disesuaikan dengan pedoman internasional sehingga, proses diagnostik dan terapi sama dengan standar di seluruh dunia.

"Seiring berkembangnya penemuan dalam penanganan kanker paru seperti pemberian terapi target (baik EGFR TKI, ALK inhibitor, dan lain-lain), sejak 2016 di Indonesia telah mengenal imunoterapi untuk kanker paru, yang cara kerjanya menstimulasi sistem imun tubuh untuk memberikan respons imunitas antitumor, sehingga meningkatkan harapan hidup pasien kanker paru stadium lanjut menjadi lebih panjang dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Sedikit berbeda dengan kemoterapi yang berfungsi membunuh sel kanker, imunoterapi meningkatkan respons imunitas antitumor," imbuh Dr. Sita.

“Pada saat ini kombinasi kemoterapi dan imunoterapi menjadi salah satu standar baru pengobatan kanker paru. Kehadiran imunoterapi menjawab tantangan dari metode pengobatan kanker terdahulu, yaitu peningkatan respons terapi dan peningkatan kualitas hidup. Terobosan pengobatan kanker paru saat ini dapat memberikan optimisme dan proses pengobatan yang lebih baik, khususnya bagi pasien kanker sehingga bisa memberikan hidup yang berkualitas," sambungnya.

Seperti dilansir dari Sindonews, ada beberapa jenis imunoterapi untuk pasien kanker paru-paru yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Antara lain imunoterapi penghambat checkpoint sistem imun, vaksin kanker berupa vaksin terapeutik untuk membunuh sel kanker, dan terapi sel t adoptive yang mengubah salah satu jenis sel darah putih pada penderita kanker untuk dapat kembali menyerang sel kanker.

 Baca juga: Kisah Survivor Kanker Serviks Parah Akhirnya Sembuh Total, Kuncinya Bahagia

Lebih jelasnya, sistem kerja dari pengobatan imunoterapi adalah langsung menyasar atau menghambat pertemuan sel imun yang kerap dimanfaatkan oleh sel kanker untuk menghindari serangan dari sistem imun atau daya tahan tubuh. Dengan begitu, sistem kekebalan pada pasien kanker akan jauh lebih aktif untuk melawan sel kanker tersebut.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini