Anak Sulit Tidur dan Suka Ngompol? Bisa Jadi Gejala Stres Loh

Wilda Fajriah, Jurnalis · Rabu 02 September 2020 20:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 02 612 2271689 anak-sulit-tidur-dan-suka-ngompol-bisa-jadi-gejala-stres-loh-zCdrDj5VH4.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

TEKANAN di tempat kerja, serta jalanan yang kembali macet memang bisa membuat kita stres. Tapi jangan salah, bukan hanya orang dewasa saja loh yang bisa mengalami stres, anak-anak juga.

Sayangnya, banyak orangtua tidak menyadari jika anak mereka mengalami stres. Padahal, anak lima tahun sampai usia remaja juga mungkin diserang stres.

Menurut sebuah survei nasional yang dilakukan oleh situs kesehatan asal Amerika Serikat, WebMD, penyebab anak stres tentu bermacam-macam. Misalnya masalah dalam keluarga, tuntutan belajar dan bersaing di sekolah sangat tinggi, ada anggota keluarga yang sakit keras, atau tekanan sosial dari lingkungan pergaulannya.

Anak-anak dan remaja umumnya belum bisa memahami, dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Mereka sendiri bahkan tidak sadar kalau yang dialaminya adalah stres. Oleh karenanya, sudah menjadi tugas Anda sebagai orangtua untuk membantu mengenali gejala-gejala stres pada anak dan remaja.

Anak stres

Kalau anak Anda sudah menunjukkan berbagai gejala stres, jangan diabaikan. Stres yang dibiarkan bisa berdampak negatif dalam jangka panjang. Anak stres lebih rentan mengidap gangguan jiwa seperti depresi. Selain itu, karena perubahan pola makan akibat stres, anak pun makin berisiko mengalami kekurangan gizi atau kelebihan berat badan.

Dampak lain yang mungkin muncul adalah menurunnya prestasi di sekolah karena anak tidak bisa konsentrasi belajar. Untuk menghindari berbagai komplikasi anak stres, ajak anak mengobrol soal tekanan yang sedang ia hadapi.

Dari situ, bantu anak untuk memahami keadaannya sekaligus mencari solusi terbaik. Bila stresnya tak kunjung reda, Anda bisa berkonsultasi dengan ahli konseling anak dan keluarga. Lantas, apa saja gejalanya?

Sulit tidur

Tak cuma orang dewasa yang kalau sedang stres jadi susah tidur. Begitu juga dengan anak dan remaja yang dilanda stres. Selain susah tidur, biasanya anak-anak yang sedang stres sering terbangun di tengah malam karena mimpi buruk.

Mengompol

Hati-hati kalau anak yang sudah berhenti mengompol tiba-tiba kembali menunjukkan kebiasaan tersebut. Biasanya anak yang sedang stres memang kembali melakukan berbagai kebiasaan yang dimilikinya saat kecil dulu. Di samping mengompol, anak mungkin juga mengisap jari lagi atau tidak mau lepas dari boneka kesayangannya.

Mudah takut

Salah satu ciri-ciri anak stres adalah tiba-tiba jadi mudah takut. Entah itu takut tidur sendiri, takut ruangan yang gelap, takut ditinggal orangtua, atau takut menghadapi orang asing. Apalagi kalau sebelumnya anak adalah sosok yang cukup pemberani. Ini adalah tanda bahwa stres yang dialami anak sudah cukup parah.

Anak Stres

Sakit tanpa penyebab yang jelas

Jika stres yang muncul sudah begitu serius, anak biasanya mengalami gejala-gejala fisik seperti sakit perut, sakit kepala, atau pusing. Padahal ketika diperiksa ke dokter, anak tidak sedang mengidap penyakit tertentu. Gejala-gejala tersebut adalah reaksi tubuh anak terhadap stres.

Perubahan nafsu makan

Nafsu makan anak bisa naik atau menurun secara drastis karena stres. Bila nafsu makannya turun, ia mungkin saja beralasan bahwa makanannya tidak enak atau ia tidak lapar. Sedangkan kalau nafsu makannya naik, anak mungkin jadi lebih sering ngemil dan cepat lapar padahal sudah makan.

Tidak bisa konsentrasi

Karena merasa kewalahan dengan beban yang ditanggung, anak pun sulit berkonsentrasi. Baik itu saat belajar di sekolah, mendengarkan perintah dari orangtua, atau bahkan ketika menonton televisi.

Perhatikan kalau anak cenderung menatap kosong ke depan atau menunduk saat melakukan aktivitas-aktivitas seperti biasanya. Itu berarti anak sudah tidak konsentrasi lagi terhadap hal yang sedang dilakukan.

Menarik diri dari keluarga atau pergaulan

Saat dilanda stres, anak mungkin memilih untuk menghindari interaksi dengan keluarga atau teman-temannya. Perhatikan apakah anak selalu menghindar ketika Anda bertanya, tidak mau diajak makan atau pergi bersama, atau lebih sering menghabiskan waktu sendirian di kamar. Begitu juga kalau anak jadi jarang bermain dengan teman-temannya.

Munculnya perilaku negatif

Perhatikan kalau akhir-akhir ini anak menunjukkan perubahan perilaku yang kurang baik. Apakah anak jadi mudah marah, tersinggung, mengeluh, membantah, atau menangis?

Anak dan remaja juga mungkin lebih sering berbohong dan menyalahi aturan di rumah. Contohnya keluyuran sampai malam atau menolak mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang jadi tanggung jawabnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini