Menyusui Tingkatkan Risiko Kanker Payudara, Benarkah?

Wilda Fajriah, Jurnalis · Selasa 08 September 2020 11:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 08 481 2274289 menyusui-tingkatkan-risiko-kanker-payudara-benarkah-iNIlCX24VN.jpg (Foto: Womenshealth)

Kanker payudara merupakan penyakit yang sering menyerang wanita, walaupun sebagian kasus juga ada yang terjadi pada pria. Medical Department Kalbe, Dokter Hastarita Lawrenti mengatakan, kasus kanker payudara menempati peringkat kedua di dunia dan pertama di Indonesia.

"Kanker payudara merupakan nomor 2 terbanyak di dunia. Menurut data, terjadi sekitar 2 juta kasus. Tapi di Indonesia sendiri menempati urutan nomor 1," ujar dokter Hastarita dalam webinar Breast Cancer pada Selasa (8/9/2020).

Terjadinya kasus kanker payudara di Indonesia hingga menempati urutan pertama ini diperkirakan karena kurangnya kesadaran masyarakat. Terlebih asuransi yang meng-cover kanker payudara masih terbilang minim.

"Jadi kenapa bisa banyak kasus di Indonesia, karena kalau di luar negeri medical check up ditanggung asuransi, kalau di Indonesia mereka harus mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri. Makanya pasien yang datang rata-rata sudah stadium lanjut," tuturnya.

Untuk itu, lanjut dokter Hastarita, penting bagi masyarakat untuk mengetahui faktor-faktor risiko yang bisa memicu terjadinya kanker payudara. Selain faktor genetik, faktor tidak menyusui juga bisa meningkatkan risiko terkena kanker payudara.

 Kanker payudara merupakan penyakit yang sering menyerang wanita.

Baca juga: Makan Siang Enak dengan Dendeng Balado, Maknyus!

"Jadi ibu menyusui itu juga bisa menurunkan risiko kanker payudara. Ini karena pajanan hormon estrogen dalam siklus hidupnya akan berkurang," ujarnya.

Seperti yang sudah diketahui, memberikan ASI kepada si kecil umumnya berusia 6 bulan hingga 1 tahun. Dengan durasi yang cukup lama, hal tersebut sudah bisa membantu menurunkan pajanan hormon estrogen dalam siklus hidupnya.

"Setidaknya kan menyusui itu 6 bulan sampai 1 tahun ya, nah itu kan bisa mengurangi kadar estrogen dalam tubuh sehingga pajanan hormon tersebut bisa berkurang," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini