Tips Mencegah Penyakit Kronik Hipertensi dan Diabetes Mellitus

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 11 September 2020 19:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 11 481 2276428 tips-mencegah-penyakit-kronik-hipertensi-dan-diabetes-mellitus-UeAM8QIwe5.jpg (Foto: Shutterstock)

PENYAKIT ginjal masih menjadi tantangan berat yang dihadapi masyarakat Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun dalam Indonesian Renal Registry (IRR) 2018, terdapat 65.947 pasien baru yang membutuhkan cuci darah, 92 persen di antaranya termasuk dalam kategori penyakit ginjal tahap akhir.

Pokja Transplantasi Ginjal RSCM, Departemen Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Dr. dr. Maruhum Bonar H. Marbun, Sp.PD-KGH,mengatakan penyakit ginjal tahap akhir (End Stage Renal Disease/ ESRD) mayoritas disebabkan oleh penyakit kronik.

Beberapa penyakit kronik yang menyebabkan penyakit ginjal tahap akhir, seperti hipertensi dan diabetes mellitus. Selain itu radang ginjal (glomerulonefritis), kista ginjal, dan sumbatan saluran kemih juga memperburuk kondisi ini.

Dalam acara re-launching ‘Unit Layanan Transplantasi Ginjal RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jumat (11/9/2020), dr. Maruhum juga menjelaskan tentang pencegahan yang bisa dilakukan untuk menghindari penyakit kronik seperti hipertensi dan diabetes mellitus.

“Menjaga tekanan darah dan kadar gula darah dalam batas normal, patuh terhadap pengobatan yang diberikan dan mempraktikkan gaya hidup sehat. Hidup sehat bisa dilakukan dengan mengonsumsi diet harian yang tepat, melakukan aktivitas fisik, menjaga berat badan, beristirahat cukup, menghentikan konsumsi zat yang tidak baik seperti merokok, minuman beralkohol,” terang dr. Maruhum.

Ia mengatakan langkah-langkah tersebut juga perlu diterapkan bagi calon donor transplan dan resipien ginjal sebelum prosedur transplantasi ginjal.

 Penyakit ginjal masih menjadi tantangan berat yang dihadapi masyarakat Indonesia.

Baca juga: Resep Bikin Sichuan Pepper Squid, Mudah dan Renyah

“Pasca prosedur transplantasi ginjal. Diperlukan pemantauan yang ketat untuk menilai adanya risiko penolakan organ. Pasien resipien transplan diberikan obat-obat penurun sistem imun dan ditempatkan pada ruangan khusus untuk mengurangi kemungkinan infeksi,” lanjutnya.

Nantinya dokter akan melakukan penilaian waktu dan jumlah urin awal untuk menilai fungsi ginjal baru. Selanjutnya, diperlukan pemantauan lain pasca operasi dari indikator jantung dan pembuluh darah serta keseimbangan cairan.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini