Benarkah Air Liur Efektif Menyembuhkan Luka?

INews.id, Jurnalis · Minggu 13 September 2020 15:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 13 481 2277030 benarkah-air-liur-efektif-menyembuhkan-luka-5zDaWqg7FI.jpg (Foto: Coursera)

JAKARTA - Sebagian orang mungkin suka mengoleskan air liur pada bagian tubuh yang terluka. Air liur boleh jadi diyakini membantu untuk menyembuhkan luka.

Pada hewan, khususnya hewan pengerat, liur hewan ini memiliki kandungan epidermal growth factor (EGF) dan nerve growth factor (NGF) yang dapat mempercepat penyembuhan luka. Air liur manusia tidak memiliki kedua kandungan tersebut, dikutip iNews.

Meski begitu, air liur manusia memiliki kandungan hiastin yang dapat membunuh bakteri dan juga mempercepat proses penyembuhan luka. Tapi, dunia medis tidak menganjurkannya.

Dokter spesialis luka dr Adisaputra Ramadhinara, MSc, CWSP, FACCWS menjelaskan air liur manusia memiliki kandungan antibakteri. Namun, mengisap bagian tubuh yang terluka berbahaya sebab mulut merupakan salah satu rongga pada tubuh manusia yang memiliki banyak bakteri.

"Liur itu memang punya kandungan antibakteri, tapi secara medis tidak dianjurkan. Di mulut itu salah satu rongga yang kumpulan bakterinya banyak sekali. Jadi kita tidak direkomendasikan," kata dr Adisaputra dalam momen webinar pada Jumat (11/9/2020).

Dia menuturkan air liur memiliki patogen, seperti bakteri, virus, dan jamur yang bisa berpindah pada luka. Pemberian air liur perlu dipertimbangkan, terlebih jika kebersihan mulut tidak terjaga dengan baik.

Menurut dr Adisaputra, saat membersihkan luka, idealnya seseorang akan membutuhkan jumlah air yang cukup. Hal itu agar luka dapat bersih dari kotoran serta benda asing.

"Saat membersihkan luka, kita butuh jumlah air yang cukup agar kotoran dan benda asing bisa dihilangkan dari luka tersebut. Kalau menggunakan air liur jadi tidak higienis, dan juga tidak etis," ujar dr Adisaputra.

Baca juga: Tips Isolasi Mandiri di Rumah Selama PSBB

Dia menyarankan agar masyarakat dapat mengikuti standar yang telah disarankan di seluruh dunia dalam mengatasi luka pada tubuh. Di antaranya dengan membersihkan luka menggunakan cairan pembersih yang tidak menimbulkan iritasi, aman untuk jaringan kulit, dan sebaiknya mengandung Polyhexamethylene biguanide (PHMB).

"Supaya kita berkembang, kita harus mengikuti standar medis yang disarankan di seluruh dunia. Gunakan cairan pembersih luka yang menjadi standar saat ini, yaitu yang tidak mengiritasi, dan aman untuk jaringan kulit baru nantinya," kata dr Adisaputra.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini