Demensia, Penyakit yang Menyerang Otak dan Pasien Usia Tua

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 14 September 2020 17:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 14 481 2277605 demensia-penyakit-yang-menyerang-otak-dan-pasien-usia-tua-mUAAxzIjbj.jpg

DEMENSIA menjadi salah satu penyakit yang paling sering dialami oleh masyarakat. Berdasarkan Canadian Society 2010, sebanyak 62 persen masyarakat mengalami alzheimer, disusul dengan vascular dementia sebesar 17 persen, demensia, demensia with lewy body sebesar 4 persen serta frontotemporal demensia dan parkinson demensia sebesar 2 persen.

Secara umum demensia selalu dikenal sebagai alzheimer karena paling banyak dialami oleh masyarakat dunia. Alzheimer adalah penyakit degeneratif yang menyerang otak dan sebagian besar dialami oleh masyarakat di usia tua. Sebanyak 60 sampai 80 alzheimer dapat menyebabkan gangguan kognitif pada manusia.

Beberapa gangguan kognitif tersebut adalah kepikunan, tidak mampu melakukan aktivitas fisik, dan hubungan sosial yang semakin memburuk. Selain itu alzheimer juga menyebabkan morbiditas dan mortalitas pada usia lanjut. Pada 2013, penderita alzheimer di Indonesia sebanyak satu juta orang.

Ketua Studi Neurobehavior PERDOSSI, dr. Astuti, Sp.S(K), mengatakan jumlah penderita alzheimer diprediksi akan meningkat sebanyak dua kali lipat pada 2030 dan akan melonjak hingga empat kali lipat pada 2050.

“Sebagian besar penderita demensia merupakan penduduk negara berkembang. Saat ini diprediksi 62 persen penduduk negara berkembang yang mengalami alzheimer dan diprediksi meningkat menjadi 75 persen pada 2050. Angka kejadian meningkat dua kali lipat setiap 10 tahun setelah usia 60 tahun,” terang dr. Astuti, dalam Digital Media Briefing ‘Pikun Bukan Hal Normal, Kenali Gejala dan Segera Obati’, Senin (14/9/2020).

Baca juga: Penularan Covid-19 di Tempat Makan, Perhatikan Masker hingga Protokol VDJ

Selain itu dr. Astuti juga mengatakan bahwa penderita demensia atau lebih dikenal dengan kepikunan tidak bisa sembuh. Penyakit malah bisa semakin bertambah parah jika seseorang tidak bisa mengontrolnya dengan baik.

“Gejalanya memburuk seiring dengan berjalannya waktu. Terapi akan membantu memperlambat perkembangan penyakitnya. Meski demikian tidak semua orang yang pelupa berarti mengalami alzheimer. Sebab pelupa bisa terjadi pada lansia sehat, orang dengan gangguan depresi dan pasien dengan masalah dimensia lainnya,” tuntasnya.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini