Geger Video Ospek Online Mahasiswa Dibentak Senior, Begini Kata Psikolog

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 15 September 2020 19:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 15 612 2278262 geger-video-ospek-online-mahasiswa-dibentak-senior-begini-kata-psikolog-WBjXTVicRB.jpg Ilustrasi (Foto : Medicalnewstoday)

Potongan video berdurasi 30 detik membuat geger media sosial. Dalam video tersebut, seorang mahasiswi yang diketahui baru masuk diospek seniornya dan ada adegan pembentakan di sana.

Bentakan tersebut terjadi saat senior mengetahui kalau mahasiswa baru tersebut tidak mengenakan ikat pinggang. 'Kamu tahu gg$%^& enggak?' 'Enggak dibaca tata tertibnya' seperti itu kalimat bentakan yang dilontarkan.

Dari video pun bisa didengar bersama kalau si mahasiswa baru tersebut meminta maaf. "Maaf kak," katanya. Lalu disauti dengan kalimat, "Maaf maaf!" bernada kencang.

Video yang dibagikan akun Twitter @Rafirizqu19 itu sudah ditonton lebih dari 4,1 juta di Twitter dan telah dibagikan ulang sebanyak 10,2 ribu kali. Komentar yang masuk pun terpantau sudah di angka 2,5 ribuan.

Ospek Online

Usai video tersebut viral, banyak persepsi yang dilontarkan netizen. Ada yang memutuskan untuk pro, ada juga yang kontra.

"Gini deh, aku sebagai mahasiswi di Un*** sebenarnya pro dan kontra, ya, menurutku kalau masalah pendisiplinan kayak gini dibolehkan saja sih. Lagian juga enggak sampai menyerang fisik, kan? Jadi, ya, bukan ke ranah perploncoan," ungkap @Strawb***.

"This is really disgusting! Coba deh panitia ospek dan seluruh ketuanya bisa enggak enggak usah bentak-bentak kalau adik tingkat salah? Kasih aja hukuman tanpa perlu membentak. Gimana sama yang punya anxiety? Trauma? dan lain-lain. Emang mau tanggung jawab? Enggak kan? Enggak setuju banget sama cara kayak gini. Kuno!" tegas @pinkis***.

Baca Juga : Cuaca Dingin, Makan Malam dengan Sup Sosis Hangatkan Badan!

Ada juga netizen yang sampai menyebarkan identitas salah satu senior yang membentak. Lalu, ditanggapi lagi oleh netizen lain dengan memberi penjelasan kenapa senior harus membentak.

"Maaf tugasnya emang begitu, kak. Maaf banget privasi orang itu. Di fakultasku, kalau PK ketahuan senyum didenda Rp50 ribu. Semua kerja sesuai jobdesk-nya kok," ungkap @aqquari****.

Terlepas dari pro dan kontra netizen, Okezone coba menanyakan kasus ini kepada Psikolog Klinis Meity Arianty. Baginya, tidak ada pengecualian apapun yang bisa dilontarkan untuk tindakan membentak.

"Enggak ada pengecualian untuk tindakan membentak. Mau sampai usia berapa pun, hindari yang namanya membentak. Tidak ada efek positifnya. Anda bisa menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik tanpa harus membentak dan menyudutkan orang lain," tegas Meity, Selasa (15/9/2020).

Bukan juga karena orang yang Anda anggap dewasa yang dinilai punya mental kuat, maka Anda bisa membentaknya. Sekali lagi, mau usia berapa pun seseorang tidak boleh dibentak, karena Anda tidak pernah tahu pribadi orang itu seperti apa.

"Dia kuat atau enggak saat menerima bentakan itu Anda enggak tahu. Dia siap atau enggak dibentak pun tidak ada yang bisa tahu selain dirinya sendiri. Karena itu, sebaiknya hati-hati memperlakukan orang lain," sambungnya.

Terkait dengan kasus yang sedang heboh ini di lingkungan kampus, Mei pun memberikan gambaran fakta bahwa banyak sekali mahasiswa baru yang mengalami depresi karena perlakuan seniornya.

"Banyak mahasiswa baru mengalami trauma karena ospek yang mana di situ ada bentakan, makian, hingga amarah yang membuat mahasiswa baru bukannya lebih kuat mentalnya, tapi sebaliknya," ungkapnya.

Cyber Bullying

Mental menjadi 'down' itu bisa dilihat dari kasus mahasiswa baru yang malah enggak percaya diri, memiliki kecemasan yang sulit dikendalikan, takut, dan merasa insecure, dan banyak lagi dampak lainnya.

"Makanya, enggak heran ada banyak mahasiswa baru yang dikabarkan pingsan atau bahkan meninggal dunia saat ospek. Itu salah satunya, ya, karena mereka enggak kuat dengan perlakukan yang diberikan," tutur Mei.

Mei pun menyarankan agar semua pembelajaran yang diberikan harus pas dan sesuai dengan tujuannya. Pikirkan juga banyak aspek, bukan semata-mata satu aspek, terutama dampak psikologis, karena dampak ini tidak langsung terlihat. "Malah kalau menurut saya bahayanya di situ," singkatnya.

Misalnya seperti ini, ketika Anda tersayat pisau, maka lukanya bisa segera Anda obati. Tapi, kalau dampak psikologis tidak bisa begitu.

"Iya, kalau si mahasiswa baru itu bisa histeris atau marah, paling tidak kita tahu dia enggak suka atau enggak nyaman. Kondisinya akan lebih rumit pada mereka yang enggak ekspresif atau pendiam. Tahu-tahu dia stres, bunuh diri, apa tidak kasihan?" katanya.

Karena itu, Mei menyampaikan bahwa jika Anda melakukan sesuatu ke orang lain, coba pikirkan dampaknya bukan diri Anda tolak ukuranya, melainkan orang lain yang mungkin berbeda dengan Anda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini