14,4 Persen Orang Dewasa Rentan Depresi Akibat Adiksi Internet Selama Pandemi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 16 September 2020 13:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 16 481 2278651 14-4-persen-orang-dewasa-rentan-depresi-akibat-adiksi-internet-selama-pandemi-1H9OpfSKfi.jpg Orang depresi (Foto: Istockphoto)

Semakin sering Anda terhubung dengan internet atau dalam istilah medis disebut adiksi internet, terkhusus di masa pandemi, meningkatkan risiko rasa cemas, depresi. Ini juga mendorong perilaku kompulsif yang akhirnya semakin memperparah adiksi internet.

Hal ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan sejumlah staf dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya.

Lebih jelasnya, peneliti mencatat ada 14,4 persen orang dewasa di Indonesia yang mengalami adiksi internet selama pandemi Covid-19 ini. Durasi online pun meningkat sebesar 52 persen dibanding sebelum pandemi.

 depresi

"Situasi ini patut diwaspadai karena penggunaan internet berlebihan justru dapat memperberat rasa cemas, depresi, dan mendorong perilaku kompulsif yang akhirnya semakin memperparah adiksi internetnya," tulis studi yang sudah diterbitkan di Jurnal Internasional Frontiers in Psychiatry itu.

Dijelaskan juga di sana, sejak pemerintah membuat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebagai bentuk perwujudan physical distancing di era pandemi Covid-19, berbagai kegiatan mulai dari sekolah, kerja, ibadah, hingga sosialisasi dilakukan secara daring di rumah.

Situasi ini menjadikan internet sebagai bagian penting dalam aktivitas masyarakat. Peneliti pun menilai dari sana jugalah timbul perilaku adiksi internet.

Salah satu faktor prediktif yang menyebabkan perilaku adiksi internet di masa pandemi ini adalah dorongan untuk mencari informasi terkait Covid-19 itu sendiri.

"Stres psikologi yang timbul akibat rasa takut terhadap infeksi virus Covid-19 juga dapat mendasari seseorang untuk mencari rekreasi melalui aktivitas online atau internet sebagai salah satu bentuk adaptasi," tulis laporan tersebut.

Peneliti pun mengungkapkan fakta bahwa pada individu dengan kasus suspek atau konfirmasi Covid-19 dalam rumah tangga, mereka memiliki skor psikopatologi 2 kali lebih tinggi.

Lebih lanjut, penelitian ini juga menunjukkan fakta lain yaitu adiksi internet berhubungan dengan penurunan waktu dan kualitas tidur.

"Mereka yang mengalami adiksi internet biasanya juga kesulitan untuk memulai tidur. Buruknya, kualitas tidur berpotensi menyebabkan gangguan psikologis dan penurunan sistem imun," tegas salah seorang peneliti, Dr. dr. Kristiana Siste, SpKJ(K) melalui keterangan tertulis yang diterima Okezone, Rabu (16/9/2020).

 Baca juga: Gaya Marion Jola Pakai Baju 'Anak TK', Netizen Gusar!

Ia melanjutkan, pada individu dengan kasus suspek atau terkonfirmasi positif Covid-19 dalam rumah tangga, situasi itu memiliki peluang lebih tinggi untuk terjadi.

Studi ini menggunakan 3 (tiga) kuesioner yaitu Kuesioner Diagnostik Adiksi Internet (KDAI), Symptoms Checklist 90 (SCL-90), dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Kuesioner disebarkan secara online melalui media sosial oleh tim peneliti sejak 28 April hingga 1 Juni 2020.

Subjek yang terlibat dalam studi ini sebanyak 4.734 responden dari seluruh provinsi di Indonesia. Selain itu, kuesioner juga dikirim ke sekretaris daru setiap perusahaan milik negara dan akademisi universitas.

Penelitian ini pun menggunakan strategi respondent driven sampling, yaitu responden penelitian diminta untuk membantu menyebarkan link kuesioner kepada orang lain.

"Secara umum, hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan psikologisnya di masa pandemi ini dan studi ini juga diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyusun regulasi penggunaan internet dan kebijakan publik lainnya," saran peneliti di studi ini.

Studi berjudul The Impact of Physical Distancing and Associated Factors Towards Internet Addiction Among Adults in Indonesia During COVID-19 Pandemic: A Nationwide Web-Based Study ini disusun oleh Dr. dr. Kristiana Siste, Sp.KJ(K); dr. Enjeline Hanafi; dr. Lee Thung Sen; dr. Hans Christian; dr. Adrian; dr. Levina Putri Siswidiani; dr. Albert Prabowo Limawan; dr. Belinda Julivia Murtani, dan Christiany Suwartono, S.Psi, PhD.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini