WHO: Vaksinasi Covid-19 Tidak Akan Selesai hingga 2022

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 16 September 2020 15:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 16 481 2278722 who-vaksinasi-covid-19-tidak-akan-selesai-hingga-2022-lSkZxtGYIp.jpg (Foto: Shutterstock)

Jangan berharap ada cukup vaksin Covid-19 untuk kehidupan yang benar-benar normal hingga 2022. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala Ilmuwan Badan Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan belum lama ini.

Menurut laporan South China Morning Post, Swaminathan menyatakan, inisiatif Covax WHO hanya dapat mengumpulkan sekitar ratusan juta dosis pada pertengan tahun depan, yang berarti masing-masing dari sekitar 170 negara atau pelaku ekonomi yang telah bergabung mendapatkan vaksinnya.

Angka dosis tersebut sangat kecil sekali dibandingkan target WHO yang mana untuk memenuhi kebutuhan seluruh dunia itu ialah 2 miliar dosis yang diperkirakan sebelumnya terlaksana pada akhir 2021.

"Banyak orang beranggapan bahwa di bulan Januari Anda memiliki vaksin untuk seluruh dunia dan semuanya akan mulai kembali normal," kata dia. "Sementara, prediksi kami peluncuran vaksin itu akan dimulai pada pertengahan 2021 karena di awal 2021 adalah saat Anda akan mulai melihat hasil dari beberapa uji cobanya," tambahnya.

Sementara itu, pemerintah China lebih agresif dalam menentukan waktu pendistribusian vaksin Covid-19 ini. Menurut Wu Guizhen dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, orang-orang di China akan mendapatkan akses vaksin pada awal November atau Desember 2020.

Tidak mau kalah, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pun menyatakan akan sesegera mungkin mengeluarkan vaksin Covid-19. Hal ini rupanya meningkatkan kekhawatiran bahwa regulator AS mungkin tunduk pada tekanan politik dan mengeluarkan izin penggunaan darurat sebelum waktunya.

Di sisi lain, Swaminathan mengatakan bahwa WHO berencana untuk mengeluarkan pedoman tentang penggunaan darurat vaksin pada minggu depan.

 Jangan berharap ada cukup vaksin Covid-19 untuk kehidupan yang benar-benar normal hingga 2022.

Baca juga: Yuk Bikin Odading Mang Oleh, Enak dan Nikmat

"Semua uji coba yang sedang berlangsung memiliki tindak lanjut setidaknya 12 bulan jika tidak lebih lama," kata Swaminathan. Itu adalah waktu yang biasa Anda lihat untuk memastikan Anda tidak mengalami efek samping jangka panjang setelah beberapa minggu pertama usai diberikan vaksin.

"Karena ini pandemi, ada kemungkinan banyak regulator yang ingin melakukan listing darurat, yang bisa dimaklumi. Tapi, tetap perlu ada beberapa kriteria," tegas dia.

Dijelaskan Swaminathan, para peneliti ingin melihat seberapa manjur vaksin yang siap didistribusikan itu. "Tapi, saya pikir yang lebih penting adalah soal keamanan dari vaksin itu sendiri," terangnya. Ia menambahkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS akan mengeluarkan pedoman penggunaan darurat.

Sementara itu, China sudah menggunakan tiga vaksin pada warga sipil di bawah otoritas penggunaan darurat sejak Juli dan satu vaksin untuk militer sejak Juni. Lebih lanjut, seorang pejabat senior dari raksasa farmasi milik negara mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa ratusan ribu orang China telah divaksinasi.

Terlepas dari itu, saat ditanya tentang situasi China dan AS, Swaminathan berkata, "Regulator nasional memiliki kewenangan untuk melakukannya di wilayah negara sendiri".

Namun ia menambahkan, mereka itu harus memberlakukan tenggat waktu bagi perusahaan untuk memberikan data, dan izin penggunaan darurat dapat dicabut jika uji coba tahap terakhir tidak memenuhi persyaratan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini