Studi Ungkap Pelaku Sarkas dan Nyinyir Lebih Besar Alami Penyakit Jantung

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 16 September 2020 17:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 16 481 2278832 studi-ungkap-pelaku-sarkas-dan-nyinyir-lebih-besar-alami-penyakit-jantung-BSt2XlK2LT.jpg (Foto: Thehealthsite)

STUDI terbaru oleh University of Tennessee telah menemukan bahwa orang suka menunjukkan kepribadian seperti bermusuhan, sarkastik berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi jantung.

Penelitian Amerika Serikat (AS) melacak 2.321 penyintas serangan jantung, yang semuanya telah menjalani tes kepribadian sebelum dipantau selama 24 bulan ke depan.

Setelah observasi selama dua tahun selesai, partisipan kemudian dibandingkan dengan hasil skor kepribadiannya. Para peneliti segera menemukan bahwa mereka yang memusuhi orang lain lebih mungkin menderita serangan jantung berulang.

Selain itu, orang-orang ini juga cenderung tidak menjaga kesejahteraan mereka sendiri. Mereka lebih cenderung merokok, minum, dan memiliki pola makan yang buruk.

Berdasarkan European Journal of Cardiovascular Nursing, para peneliti menyimpulkan bahwa karakter seseorang dapat memengaruhi jantung. Hal ini terjadi melalui mekanisme perilaku dan psikologis.

Penulis studi, Tracey Vitori menyatakan bahwa beberapa karakteristik ‘permusuhan’ yang disoroti adalah sarkasme, sinisme, kebencian, ketidaksabaran, atau mudah tersinggung.

"Orang yang bermusuhan telah meningkatkan waktu pembekuan, tingkat adrenalin yang lebih tinggi, di atas tingkat kolesterol dan trigliserida normal, dan meningkatkan reaktivitas jantung," kata para peneliti, melansir dari VT, Rabu (16/9/2020).

Asisten Profesor di Fakultas Keperawatan Universitas Tennessee, Vitori menyatakan bahwa kejadian ini bukan hanya terjadi satu kali saja. Namun ini menjadi ciri bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain.

"Kami tahu bahwa mengendalikan kebiasaan gaya hidup meningkatkan prospek pasien serangan jantung dan penelitian kami menunjukkan bahwa meningkatkan perilaku bermusuhan juga bisa menjadi langkah positif,” terang Vitori.

 Orang yang suka menunjukkan kepribadian seperti bermusuhan, sarkastik berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi jantung.

Baca juga: 6 Manfaat Konsumsi Jahe di Tengah Pandemi, Salah Satunya Tingkatkan Kekebalan Tubuh

Para ahli lain pun telah mempertimbangkan hasil studi tersebut. Salah satunya adalah Profesor Sian Harding dari Farmakologi Jantung di Imperial College London. Menurutnya ada hubungan yang kuat antara emosi dengan penyakit jantung.

"Penemuan menambah pengetahuan yang menghubungkan emosi yang kuat dengan kematian jantung, seringkali kematian jantung mendadak karena aritmia,” terang Prof Sian.

Menurutnya studi ini dapat memberikan dukungan dengan baik dan memiliki pesan yang berguna untuk pasien jantung.

"Sebagian besar pasien jantung mendapat skor tinggi pada skor permusuhan, yang meningkatkan relevansinya,” lanjutnya.

Para ahli juga menemukan bahwa mereka yang memiliki pandangan hidup yang lebih positif lebih mungkin untuk berolahraga, lebih sedikit minum, dan tidak merokok.

Studi sebelumnya yang diterbitkan oleh Associate Professor Psikiatri di Harvard Medical School, Jeff C Huffman menyatakan bahwa menjadi bahagia dapat memberikan jantung yang sehat.

"Orang yang mengalami emosi positif memiliki tingkat kortisol yang lebih rendah, dan lebih sedikit kelainan tekanan darah dan respons stres fibrinogen terhadap tes stres mental, dibandingkan dengan mereka yang tidak merasakan emosi positif,” ucap Jeff.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini