Bisa Sebabkan Kanker, Petani Indonesia Kurang Peduli dengan Penggunaan Pestisida

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 16 September 2020 18:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 16 612 2278842 bisa-sebabkan-kanker-petani-indonesia-kurang-peduli-dengan-penggunaan-pestisida-rRfkPiLV9a.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BAHAYA penggunaan pestisida dalam sayur buah atau bahan pangan lain bisa mengganggu kesehatan. Karenanya generasi muda diajak bersosialisasi kepada petani agar menanam tanaman organik yang lebih sehat.

Ilmuwan telah menganalisis dampak dari pastisida yang mengandung bahan kimia dalam proses produksinya dan ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Pestida yang disemprotkan ke tanaman yang ada di atas ladang ternyata mengandung banyak senyawa kimia yang berbahaya.

Pada awalnya penggunaan memang ditujukan untuk melawan serangan dari mikroba, jamur, gulma dan bakteri sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman yang tinggi.

Baca Juga: Gaya Marion Jola Pakai Baju 'Anak TK', Netizen Gusar!

petani

Dilansir dari Softpedia, dalam studi terakhir, para peneliti di Arizona State University (ASU) Biodesign Institute yang memimpin sebuah kolaborasi dari para ahli dan beberapa pusat penelitian utama memfokuskan perhatiannya pada chlordane dan permetrin. Keduanya merupakan jenis pestisida yang paling sering digunakan oleh petani.

Nah, dalam studi tersebut juga dijelaskan bahwa penggunaan pestisida dapat menyebkan kanker. Sayangnya tak sedikit orang masih mengonsumsi bahan pangan berpestisida setiap hari.

Sementara itu, Dosen Universitas Padjajaran Dr Vira Kusuma Dewi mengatakan, mahasiswa pertanian sudah seharusnya menyebarkan cara dan metode menggunakan produk pertanian secara aman. Gunanya dapat meminimalisir risiko penggunaan pestisida.

"Karena masih banyak petani Indonesia yang masih kurang memiliki informasi mengenai bahaya dari penyalahgunaan pestisida," ujar Vira, lewat keterangan resminya.

Direktur Bayer Indonesia Mohan Babu juga menambahkan, mahasiswa dapat menjadi agent of change yang turun langsung ke petani di lapangan. Para petani perlu diedukasi dan disosialisasikan dalam hal ini.

"Mahasiswa bisa jadi agent of change untuk memberikan sosialisasi dan edukasi pertanian yang komprehensif," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini