Sering Tak Disadari, Kenali Tanda-Tanda Hubungan Toxic

Rabu 16 September 2020 20:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 16 612 2278861 sering-tak-disadari-kenali-tanda-tanda-hubungan-toxic-fUuiMQx0jR.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MUNGKIN Anda pernah mendengar atau bahkan mengalami sendiri terjebak dalam sebuah toxic relationship. Hanya karena kita merasa baik-baik saja, belum tentu kita aman dari jeratan hubungan tidak produktif ini.

Oleh karena itu, sebelum terburu-buru menamai sebuah hubungan sebagai “toxic relationship”, ada baiknya kita mengenali terlebih dahulu soal istilah pop dalam psikologi ini. Ingatlah bahwa tak semua hubungan yang kurang luwes dapat disebut toxic relationship.

Tanda-tanda toxic relationship yang terlihat jelas di mata orang lain dapat saja sulit terlihat dari mata korban, karena terdapat ikatan emosional yang dimiliki terhadap pelaku. Oleh sebab itu, kita perlu waspada mengenali definisi dan tanda-tanda toxic relationship.

Menurut ahli psikologi asal California, Dr. Lillian Glass dalam buku “Toxic People” yang dirilis pada tahun 1995, toxic relationship diartikan sebagai “segala bentuk hubungan (antarorang) yang tidak saling mendukung, terdapat konflik di mana salah satu di antaranya berusaha merusak yang lain, terdapat kompetisi, dan tidak ada rasa hormat maupun kekompakan.”

Menurut pengertian di atas, toxic relationship dapat terjadi pada siapa saja. Bisa saja hubungan orang tua-anak, pertemanan, hubungan romantis, dan lain sebagainya. Lalu, apa saja tanda-tandanya?

toxic relationship

Sering tidak disadari korban

Dr. Glass menyebutkan bahwa korban sering kali menjadi orang terakhir yang menyadari bahwa ia terjebak toxic relationship. Ketika peran pelaku begitu mendominasi dan hubungan sudah dijalin begitu lama, apa yang sebetulnya tidak sehat dalam sebuah relationship lama kelamaan dirasa “normal” oleh korban. Itulah pentingnya bagi kita untuk mendengar masukan dari keluarga dan orang terdekat terkait pendapat mereka.

 

Ketidakbahagiaan yang persisten

Apabila Anda tidak benar-benar merasa bahagia dalam sebuah hubungan dan lebih sering membuat Anda merasa cemas, marah, kecewa, dan lain sebagainya, boleh jadi Anda sedang mengalami toxic relationship. Terutama apabila pola ini cenderung persisten dalam jangka waktu lama.

Pola hubungan manipulatif

Bahkan ketika pelaku tidak melakukan kekerasan fisik maupun verbal yang jelas, toxic relationship tetap dapat diwarnai oleh kekerasan dalam bentuk lain seperti kekerasan emosional yang sering ditandai oleh tingkah laku manipulasi. Contoh dari manipulasi adalah paksaan, kecurigaan, tingkah laku mengontrol, dan pengabaian.

Rasa takut untuk menyampaikan pendapat

Apabila Anda merasa bagai berjalan di antara kepingan kaca setiap kali ingin mengomunikasikan sesuatu kepada seseorang, maka ini merupakan sinyal merah bahwa Anda telah terjebak dalam toxic relationship. Mengalami kekerasan dan dominasi dalam waktu panjang cenderung membuat kita takut atau khawatir untuk menyampaikan pendapat jujur kita.

Ingatlah bahwa seluruh hubungan yang tidak mengizinkan salah satu anggotanya untuk terbuka dalam berpendapat maupun memilih keputusan untuk dirinya sendiri bukanlah sebuah hubungan yang sehat.

Perubahan dalam hubungan lain

Perhatikan, seberapa sering Anda merelakan waktu bersama keluarga, bekerja, maupun waktu personal untuk menyesuaikan jadwal Anda untuk orang tertentu? Seberapa besar pengaruh hubungan yang Anda miliki dengan orang tersebut kepada hubungan-hubungan Anda yang lain? Apabila teman-teman atau keluarga Anda mulai menjauh, mungkin Anda sudah sepatutnya waspada.

Apabila Anda merasa mengalami tanda-tanda toxic relationship di atas, segeralah mencari dukungan dari orang-orang yang paling Anda percaya dan tetapkan cara untuk keluar dari hubungan tersebut. Apabila dibutuhkan, mintalah bantuan profesional seperti psikolog maupun konselor trauma.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini