Orangtua Bunuh Anak karena Susah Diajari Belajar Online, Stres Efek Pandemi?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 17 September 2020 19:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 17 481 2279541 orangtua-bunuh-anak-karena-susah-diajari-belajar-online-stres-efek-pandemi-R3vYTkV4ZT.jpg Ilustrasi (Foto : Dok.Okezone)

Diterangkan dr Alvina, ada banyak faktor yang akhirnya membuat orangtua stres saat pandemi ini, misalnya saja mereka mesti bekerja di rumah, kemudian mengatur proses belajar jarak jauh untuk anak, dan terhalangnya kegiatan pribadi si orangtua itu sendiri.

"Masalah ekonomi pun memperparah situasi di dalam keluarga. Lalu, banyak juga orangtua yang geraknya terbatas, misalnya yang dulunya bisa melakukan hobi untuk refreshing, sekarang jadi dibatasi," terang dr Alvina, Kamis (17/9/2020).

Dokter Alvina menegaskan, hendaknya masyarakat menyadari bahwa dalam situasi seperti pandemi ini, sangat wajar bila muncul perasaan sedih, tertekan, khawatir, bingung, takut, dan marah. Tapi, emosi tersebut bisa dikelola dengan bijak.

Curhat

Misalnya saja dengan membicarakan masalah tersebut kepada orang yang Anda percayai, seperti pasangan, keluarga, atau sahabat terdekat. "Tapi, jangan sekali-kali meluapkan emosi tersebut ke alkohol, tembakau, atau obat-obatan tanpa resep dokter," tegasnya.

Dia pun menyarankan agar masyarakat jika diperlukan kurangi waktu untuk menonton, mendengarkan, atau membaca liputan berita atau informasi yang Anda anggap meresahkan. Kontrol ini pun diperlukan agar emosi negatif Anda tidak semakin buruk.

"Saya juga sarankan agar Anda menggunakan cara-cara yang selama ini telah digunakan sebelumnya untuk mengelola stres. Sebab, setiap orang punya caranya sendiri, tapi tetap diingat untuk tidak mengalihkan stres tersebut ke arah yang negatif," tambahnya.

Menjadi catatan, bila perasaan tidak nyaman itu menetap dan perlahan seperti menggerogoti pikiran bahkan mengganggu aktivitas Anda, segera berkonsultasi dengan tenaga profesional. "Jika situasinya sudah sangat parah, segera datangi psikiater atau psikolog agar ditangani secara benar," pungkas dr Alvina.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini