Kisah Pasien OTG Sembuh dari Covid-19, Sempat Demam Tinggi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 18 September 2020 08:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 18 481 2279718 kisah-pasien-otg-sembuh-dari-covid-19-sempat-demam-tinggi-5hk8uXINsV.jpg Sakit Covid-19 (Foto: Pittsburgh Post Gazette)

Virus SARS-CoV2 semakin bandel. Ya, virus penyebab Covid-19 ini makin banyak menginfeksi manusia tapi tidak ada gejala yang ditunjukkan tubuh atau biasa kita sebut dengan pasien asimtomatis (OTG).

Menurut data Pandemic Talks misalnya, terdapat fakta bahwa pasien Covid-19 dalam kelompok OTG itu sebanyak 80 persen. Angka yang sangat tinggi, bukan?

 Pandemi virus corona

Oleh karena itu, pasien dalam kelompok ini harus terus dilacak keberadaannya agar tidak menyebarkan virus yang ada di dalam tubuhnya ke orang lain.

Di sisi lain, akun Twitter @BrokenPuzzless coba membagikan cerita bagaimana bisa sembuh dari Covid-19, yang mana sebelumnya terinfeksi Covid-19 dengan status tanpa gejala. Ia berharap, dari ceritanya ini bisa menyadarkan sekaligus mengedukasi masyarakat untuk tidak mengabaikan kondisi kesehatannya.

Pemilik akun @BrokenPuzzless sudah mengizinkan Okezone untuk menuliskan kembali cerita yang dia bagikan di Twitter.

Dalam penjelasannya, cerita dimulai pada akhir Juli dia mengeluhkan 'short breath' seperti Gerd. Karena muncul rasa tidak nyaman tersebut, netizen itu pun meminum Lanzoprazole atas usulan teman dokternya.

Lalu, pada 7 Agustus, dia inisiatif untuk Rapid Test mandiri di RS Sari Asih Ciputat. Niatnya ini dia pilih karena kepikiran takut menularkan keluarga di rumah jika memang benar tubuhnya telah terinfeksi Covid-19.

Hasil Rapid Test keluar yaitu reaktif. Tahu hasilnya reaktif, netizen ini pun memutuskan untuk menginap di hotel agar meminimalisir kontak dengan keluarga di rumah.

"Esok paginya semua anggota keluarga ikut tes Rapid dan PCR (tes swab)," ceritanya yang kini sudah disukai lebih dari seribu netizen di Twitter.

Kemudian, di hari semua anggota keluaganya Rapid Test dan PCR Test, yaitu 8 Agustus, netizen ini memutuskan untuk tes swab bersama dengan ayahnya. "Hasil Rapid adik-adik semua non reaktif," terangnya.

Karena status kesehatan adik-adiknya non reaktif, netizen itu pun memutuskan untuk tidak pulang ke rumah lagi. Ia memutuskan untuk menetap di apartemen.

Nah, pada 12 Agustus hasil swab dia dan bapaknya keluar dan di sana dikatakan mereka berdua positif Covid-19. Karena tahu hasilnya positif, adik-adiknya memutuskan untuk di-swab.

Ia pun menetap di apartemen ditemani dengan bapaknya yang juga positif. Saat tahu hasil tes positif Covid-19, pria ini tidak mengeluhkan gejala apa-apa. Bahkan, mereka masih bisa jogging bersama.

Lalu, esok harinya dia pun melakukan konsultasi online dan mendapatkan obat yang sesuai dengan kondisi kesehatan tubuhnya. Tapi, entah bagaimana di malam harinya pria ini mulai merasa tubuhnya enggak enak. "Saya demam di atas 37 derajat celsius," curhatnya.

Mulai dari 14 hingga 16 Agustus, netizen ini mengalami demam dengan suhu naik-turun, tapi suhu rata-rata di atas 37 derajat celsius. Tepat di 16 Agustus malam, demamnya memuncak hingga 39,5 derajat celsius.

 Baca juga: Waspada, Ini 7 Gejala Bila Seseorang Terinfeksi Covid-19

Karena kondisi tubuhnya sudah tidak baik, dia pun memutuskan untuk mendatangi IGD RSUI. Dalam tindakannya, ia menjalani rontgen, cek saturasi, dan lain-lain.

"Saya pun dirawat intensif di rumah sakit, bapak pun sama meski dia tanpa keluhan. Kami masuk sebagai pasien umum dengan status positif Covid-19," kata dia.

Dalam perawatannya di rumah sakit, si pria ini mendapatkan kabar terkait hasil swab adik-adiknya yang mana semuanya dinyatakan negatif Covid-19. Mendengar kabar tersebut, dia pun sedikit tenang dan fokus mengobati diri sendiri dan bapaknya.

Nah, selama dirawat intensif di rumah sakit, keluhan yang dia rasakan hanya sebatas sakit kepala. Beda dengan bapak yang sempat tensinya naik tapi selebihnya tidak ada keluhan.

Singkat cerita, tes swab dilakukan sebanyak dua kali dan keduanya menunjukan hasil negatif Covid-19. Dengan status tersebut, ia dan bapaknya diperbolehkan pulang pada 21 Agustus 2020.

Seperti pasien Covid-19 sembuh lainnya, ia pun dititipkan pesan dari rumah sakit yaitu tetap menjalankan isolasi mandiri selama 14 hari dan menjalankan pola hidup sehat. "Interaksi minimal dengan anggota keluarga," katanya.

Soal biaya yang mesti dibayar, pria ini mengaku tidak ada sepeserpun uang yang ia keluarkan untuk perawatan Covid-19. Semuanya ditanggung Kementerian Kesehatan. "Saya juga salut kepada pelayanan para tenaga kesehatan di RSUI yang tetap ceria dan terus memberi semangat," pujinya.

Pada 4 Agustus, dia mengaku lakukan check-up ke RSUI dalam kondisi bisa dikatakan sembuh dan tetap menjalankan pola hidup sehat. Untuk memastikan kondisi kesehatannya, dia pun tetap memonitor kondisi kesehatan dengan termometer dan oximeter.

Dari semua ini, ada pesan yang coba dia sampaikan kepada masyarakat. "Kita yang merasa sehat tanpa keluhan tetap punya kemungkinan terpapar dan menularkan ke orang lain terutama anggota keluarga yang tinggal serumah," terangnya.

Dengan tingginya kasus per hari, kamar perawatan di rumah sakit menipis, dan makin banyak tenaga kesehatan yang terpapar bahkan tumbang di tengah tugasnya, pria ini berharap agar semua masyarakat lebih perhatian. "Sederhana, selamatkan orang yang kita cintai dan diri kita sendiri," singkatnya.

Ia pun memberi pesan sebagai berikut, "Kita memang tidak punya 'nasib' yang sama tapi kita berada di situasi yang sama. Buat teman-teman yang masih perlu ke kantor, masih harus beraktivitas bolak-balik di luar rumah, tolong jalankan protokol kesehatan di segala situasi. Lakukan apa yang diperlukan saja. Mari tolong diri kita sendiri dan orang lain dengan meminimalisir penyebaran.

Berhenti untuk menyebarkan perkataan negatif, sederhana supaya pikiran kita tetap waras. "Stay safe. Stay healthy body and mind. Keep our close attention to those loved ones. Until then, please take care," tulisnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini