Penyakit Menular Seksual Naik Gara-Gara Aplikasi Kencan Online?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 19 September 2020 15:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 19 612 2280446 penyakit-menular-seksual-naik-gara-gara-aplikasi-kencan-online-hewp7QPGnZ.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MEMILKI aplikasi kencan online sekarang ini bukan sesuatu yang memalukan. Bahkan, banyak orang yang secara terang-terangan menjelaskan kalau dirinya punya akun Tinder, misalnya.

Selebriti Hollywood seperti Eminem, Hilary Duff, Zac Efron, bahkan Katy Perry pun diketahui pernah menggunakan aplikasi online dan mengakui ke publik. Tidak hanya untuk mencari teman, beberapa orang mengaku memiliki aplikasi kencan untuk memperluas jejaring diri yang akan menguntungkan pekerjaannya.

Tapi, tidak bisa dipungkiri kalau pengguna aplikasi kencan online itu didominasi para pencari cinta. Hiburan seperti kencan buta atau bahkan 'hook up' bukan sesuatu yang aneh dilakukan sebagian besar pengguna aplikasi online.

Di sisi lain, risiko penyakit menular seksual menghantui mereka. Menurut laporan The World News, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat bahwa penyakit menular seksual (PMS) meningkat 2,8 persen sejak 2013 efek makin tingginya pengguna aplikasi kencan online.

apps kencan online

Hasil penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian yang lebih besar yang diterbitkan tahun lalu di Personality and Individual Differences, jurnal peer-review, ditulis bersama oleh Baris Sevi, seorang mahasiswa doktoral di Departemen Ilmu Pengetahuan dan Pengembangan Manusia Universitas West Virginia.

Sementara itu, studi yang diterbitkan dalam jurnal Evolutionary Psychological Science menjelaskan bahwa pengguna aplikasi kencan sadar kalau ada risiko PMS tersebut, tapi mereka menganggapnya sebagai angin lalu atau tidak terlalu memperdulikannya.

"Hasil wawancara dengan 182 pengguna Tinder menjelaskan bahwa mereka sadar akan adanya risiko kehamilan di luar nikah, penyakit menular seksual, atau menikah dengan pasangan yang tidak kompatibel secara genetik. Tapi, itu dianggap bukan sesuatu yang menakutkan," papar penulis.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini