Hari Jantung Sedunia, Waspadai Penyakit Gagal Jantung yang Bersifat Permanen

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 29 September 2020 08:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 29 481 2285303 hari-jantung-sedunia-waspadai-penyakit-gagal-jantung-yang-bersifat-permanen-jjTfO2v3pQ.jpg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

World Heart Day atau biasa disebut dengan Hari Jantung diperingati setiap 29 September. Hari jantung tahun ini mengajak masyarakat untuk lebih mengenai mengenai berbagai spektrum penyakit kardiovaskular.

Beberapa gangguan kardiovaskular di antaranya adalah penyakit jantung koroner, penyakit jantung bawaan, gagal jantung, gangguan irama jantung, dan penyakit katup jantung.

Serangan Jantung

Meskipun tidak sebanyak penderita penyakit jantung koroner, namun sebagian besar kasus gagal jantung bersifat permanen. Pasien juga memiliki angka harapan hidup lebih rendah.

Baca Juga : Bisa Bikin Serangan Jantung, Berapa Banyak Makan Durian yang Aman?

Dokter Spesialis Jantung, dr. Siti Elkana Nauli SpJP, gagal jantung adalah kondisi di mana fungsi jantung dalam memompa darah sudah tidak maksimal. Darah yang dipompa tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan seluruh jaringan tubuh.

“Akibatnya pasien mengalami gejala seperti mudah lelah dan sesak napas saat beraktivitas. Berat ringannya gejala tergantung tahapan atau stage gagal jantung,” terang dr. Siti, dalam siaran pers yang diterima Okezone, Senin (28/9/2020).

Penelitian pernah yang dilakukan oleh perhimpunan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Indonesia melalui registri data pasien jantung antara 2017-2020. Hasilnya menunjukkan, dari sekira 2000 pasien gagal jantung, disebabkan oleh hipertensi, penyakit jantung koroner, dan diabetes.

Tingkat kesakitan dan kematian pasien gagal jantung sangat tinggi. Kualitas hidupnya pun jauh lebih buruk dibandingkan penyakit jantung lainnya.

“Angka harapan hidupnya selama 5 tahun hanya sekira 50% saja. Untuk pasien rawat inap, angka kematiannya bahkan lebih tinggi lagi, yakni 17-20% akan meninggal dalam waktu 30 hari dirawat,” lanjutnya.

Serangan Jantung

Biaya pengobatan dan perawatan pasien gagal jantung juga sangat tinggi. Salah satu pemicunya, pasien harus dirawat di rumah sakit berulang-ulang, saat gejala memburuk.

“Semakin sering pasien dirawat di rumah sakit, maka pengobatan menjadi lebih sulit dan komplikasi semakin banyak. Bahkan pasien bisa resisten dengan pengobatan dan akhirnya jatuh pada gagal jantung tahap akhir,” tuntasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini