Ini Penyebab Remaja Lebih Rentan Alami Depresi

Dara Siti Nabillah, Jurnalis · Rabu 30 September 2020 11:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 30 481 2286047 ini-penyebab-remaja-lebih-rentan-alami-depresi-otnRhIfDfS.jpg Ilustrasi (Foto: Lifespectator.co.uk)

Masa remaja memiliki emosi yang sangat sulit untuk dikontrol. Mereka sering sekali mengalami stres dan sakit hati, bahkan karena masalah yang sepertinya sangat sepele.

Depresi yang sering dialami oleh sebagian besar remaja, yaitu gangguan mood. Usia rata-rata timbulnya depresi adalah 14 tahun dan pada akhir masa remajanya. 20% dari mereka, akan mengalami depresi klinis.

Gadis-gadis dewasa akan lebih cepat dalam pengenalan emosional mereka dan kepekaan itulah yang dapat membuat mereka lebih rentan terhadap depresi. Depresi pada pertengahan masa remaja, biasanya lebih dikenal dengan gangguan mood. Jenis kelamin perempuan lebih rentan mengalami depresi dibanding laki-laki.

Penyebab depresi pada anak, bisa saja dalam masalah keluarga yang terlibat konflik antara kedua orangtuanya. Trauma pelecehan fisik atau seksual pada anak usia dini juga dapat menjadi penyebab depresi.

Penyebab lainnya, yaitu bisa dipicu oleh peristiwa stres seperti perceraian, putus atau kematian orang yang dicintai. Ketika bahan kimia otak (neurotransmitter) tidak normal atau terganggu maka fungsi reseptor saraf dan sistem saraf berubah yang menyebabkan depresi.

Gangguan dysphoric pramenstruasi adalah suatu kondisi yang terlihat pada anak perempuan dalam masa pramenstruasi di mana pada anak perempuan tersebut memiliki gejala pramenstruasi seperti nyeri payudara, kembung, sakit kepala yang berhubungan dengan tanda-tanda depresi. Hal ini juga yang menjadi pemicu hormonalnya.

Seorang gadis remaja yang kelebihan berat badan atau obesitas memiliki rambut wajah yang berlebihan dan siklus haid yang tidak teratur sering didiagnosis memiliki kondisi yang disebut penyakit ovarium polikistik. Penyebab kondisi ini adalah resistensi hormon insulin dalam tubuh, yang juga mengubah cara tubuh memproduksi hormon tertentu lainnya. Remaja memiliki ketidakseimbangan hormonal, sehingga membuat mereka rentan terhadap depresi.

Otak adalah organ target utama untuk hormon tiroid untuk bertindak dan berperan dalam suasana hati dan perilaku serta kognisi. Terlihat bahwa penurunan fungsi kelenjar tiroid-hipotiroidisme dan depresi terjadi bersamaan. Seorang remaja yang menunjukkan tanda-tanda depresi juga harus dites hipotiroidisme.

Depresi adalah gangguan internalisasi yaitu gangguan yang mengganggu kehidupan emosional pasien. Oleh karena itu perlu beberapa saat bagi orang lain untuk mengenalinya.

 Masa remaja memiliki emosi yang sangat sulit untuk dikontrol.

Baca juga: Cegah Obesitas, Hindari Konsumsi Tepung dan Makanan Manis

Ada berbagai tanda yang perlu diperhatikan orang tua terutama jika berperilaku seperti mudah marah, menangis berlebihan, selalu sedih, cepat bosan, kehilangan minat pada aktivitas apa pun, bahkan yang sangat diminati sebelumnya, penarikan diri dari pergaulan, masalah dalam hubungan, perubahan nafsu makan, penurunan berat badan, pertambahan berat badan, aktivitas larut malam yang berlebihan, terlalu banyak tidur atau kurang tidur, sulit bangun di pagi hari, harga diri rendah, terlalu sensitif terhadap penolakan, prestasi belajar yang buruk, sering bolos sekolah, memberikan barang-barang favorit.

Jika situasi tersebut berlangsung lama maka segeralah untuk mencari pertolongan medis. Hampir 80% remaja tidak menerima bantuan dan tidak diobati saat mengalami depresi sehingga melakukan kegiatan negatif, seperti penyalahgunaan zat dan obat-obatan, kegagalan akademis, gangguan makan, bahkan lebih parahnya sampai melakukan bunuh diri.

Peran orangtua sangat besar dalam mencegah depresi pada anak. Orangtua seharusnya dapat memberikan kasih sayang yang penuh kepada anaknya, serta dapat mendorong anak untuk mengekspresikan diri, membantu anak membuat pilihan yang sehat karena masa remaja adalah masa yang penuh gejolak secara emosional, memiliki waktu untuk makan bersama sang anak, menghindari konflik di rumah, mendorong olahraga teratur, mendorong kebiasaan tidur yang baik dan nasehat untuk menghindari alkohol dan narkoba.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini