Mengenal Istilah Herd Immunity dalam Konteks Covid-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 30 September 2020 11:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 30 481 2286057 mengenal-istilah-herd-immunity-dalam-konteks-covid-19-iJ3y6uyPUy.jpg Patuhi protokol kesehatan kunci putus penularan Covid-19 (Foto : Okezone)

Pandemi virus corona Covid-19 yang tak kunjung berakhir membuat masyarakat menjadi khawatir tentang masa depan. Terlebih dengan istilah herd immunity yang dicanangkan oleh pemerintah.

Pada Maret lalu Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, bahkan menyerukan warganya untuk menjaga imunitas dengan herd immunity. Rutte mengatakan herd immunity bisa meringankan gejala seseorang apabila terinfeksi Covid-19.

“Dengan mengambil pendekatan ini, kebanyakan orang hanya akan mengalami gejala ringan. Kita bisa membangun kekebalan serta memastikan bahwa sistem perawatan dan kesehatan kita mampu mengatasinya," kata Ruttte.

New Normal

Meski demikian masih banyak masyarakat yang bingung dengan istilah herd immunity. Mengutip dari Business Insider, Rabu (30/9/2020), herd immunity adalah kondisi ketika sebagian besar populasi kebal terhadap patogen, sehingga penularan tidak terjadi secara luas.

Baca Juga : Adu Gaya Marion Jola Vs Brisia Jodie, Siapa Paling Gemas?

Contohnya, untuk membatasi penyebaran campak, para ahli memperkirakan bahwa 93% hingga 95% dari populasi harus kebal. Campak sendiri dianggap lebih menular bila dibandingkan dengan COVID-19. Para ahli memperkirakan 40% hingga 70% populasi harus kebal untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Di samping itu, herd immunity juga dapat dicapai melalui penggunaan vaksin, seperti dalam kasus cacar dan campak. Sayangnya, sejumlah ahli mengatakan dibutuhkan waktu selama kurang lebih 18 bulan untuk mengembangkan vaksin corona.

Kekebalan kelompok disinyalir bisa dilakukan secara alami, bila orang-orang yang terbukti positif corona pulih kembali dan menjadi kebal.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini