Remaja Lebih Rentan Terkena Depresi, Kenali Penyebabnya

Dara Siti Nabillah, Jurnalis · Rabu 30 September 2020 22:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 30 481 2286435 remaja-lebih-rentan-terkena-depresi-kenali-penyebabnya-goerScgVcV.jpg (Foto: USNews)

Depresi bisa dialami oleh remaja. Usia rata-rata timbulnya depresi adalah 14 tahun dan pada akhir masa remajanya.

Depresi pada pertengahan masa remaja, biasanya lebih dikenal dengan gangguan mood. Jenis kelamin perempuan juga diketahui lebih rentan mengalami depresi ketimbang laki-laki.

Penyebab depresi pada anak, bisa saja dalam masalah keluarga yang terlibat konflik antara kedua orangtuanya. Trauma pelecehan fisik atau seksual pada anak usia dini juga dapat menjadi penyebab depresi.

Penyebab lainnya, yaitu bisa dipicu oleh peristiwa stres seperti perceraian, putus atau kematian orang yang dicintai. Ketika bahan kimia otak (neurotransmitter) tidak normal atau terganggu maka fungsi reseptor saraf dan sistem saraf berubah yang menyebabkan depresi.

Gangguan dysphoric pramenstruasi adalah suatu kondisi yang terlihat pada anak perempuan dalam masa pramenstruasi di mana pada anak perempuan tersebut memiliki gejala pramenstruasi seperti nyeri payudara, kembung, sakit kepala yang berhubungan dengan tanda-tanda depresi. Hal ini juga yang menjadi pemicu hormonalnya.

Seorang gadis remaja yang kelebihan berat badan atau obesitas memiliki rambut wajah yang berlebihan dan siklus haid yang tidak teratur sering didiagnosis memiliki kondisi yang disebut penyakit ovarium polikistik. Penyebab kondisi ini adalah resistensi hormon insulin dalam tubuh, yang juga mengubah cara tubuh memproduksi hormon tertentu lainnya. Remaja memiliki ketidakseimbangan hormonal, sehingga membuat mereka rentan terhadap depresi.

Otak adalah organ target utama untuk hormon tiroid untuk bertindak dan berperan dalam suasana hati dan perilaku serta kognisi. Terlihat bahwa penurunan fungsi kelenjar tiroid-hipotiroidisme dan depresi terjadi bersamaan. Seorang remaja yang menunjukkan tanda-tanda depresi juga harus dites hipotiroidisme.

Baca juga: Ini Cara Menggunakan Air Rebusan Beras untuk Turunkan Berat Badan

Depresi adalah gangguan internalisasi yaitu gangguan yang mengganggu kehidupan emosional pasien. Oleh karena itu perlu beberapa saat bagi orang lain untuk mengenalinya.

Ada berbagai tanda yang perlu diperhatikan orang tua terutama jika berperilaku seperti mudah marah, menangis berlebihan, selalu sedih, cepat bosan, kehilangan minat pada aktivitas apa pun, bahkan yang sangat diminati sebelumnya, penarikan diri dari pergaulan, masalah dalam hubungan, perubahan nafsu makan, penurunan berat badan, pertambahan berat badan, aktivitas larut malam yang berlebihan, terlalu banyak tidur atau kurang tidur, sulit bangun di pagi hari, harga diri rendah, terlalu sensitif terhadap penolakan, prestasi belajar yang buruk, sering bolos sekolah, memberikan barang-barang favorit.

Jika situasi tersebut berlangsung lama maka segeralah untuk mencari pertolongan medis. Hampir 80% remaja tidak menerima bantuan dan tidak diobati saat mengalami depresi sehingga melakukan kegiatan negatif, seperti penyalahgunaan zat dan obat-obatan, kegagalan akademis, gangguan makan, bahkan lebih parahnya sampai melakukan bunuh diri.

Peran orangtua sangat besar dalam mencegah depresi pada anak.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini